TVRINews, Jakarta
Kepedulian terhadap persoalan air bersih dan sanitasi mendorong seorang pelajar Indonesia, Darren Ismaya Karmaina, menginisiasi Water Guardian, sebuah gerakan sosial yang mengubah gagasan menjadi aksi nyata melalui pembangunan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) bagi warga Kemayoran, Jakarta Pusat.
Fasilitas MCK tersebut sebagai implementasi perdana Water Guardian. Proyek ini lahir dari ketertarikan Darren terhadap isu akses air bersih dan Sustainable Development Goals (SDG) 6: Clean Water and Sanitation, sekaligus keinginannya agar kepedulian generasi muda tidak berhenti pada kampanye semata.
"Apa yang sebenarnya bisa dilakukan seorang pelajar untuk membantu menghadapi persoalan nyata di masyarakat? Dari pertanyaan tersebut, Water Guardian berkembang dari sebuah gagasan menjadi proyek nyata melalui kolaborasi dengan masyarakat, tokoh setempat, pemerintah daerah, mitra CSR, serta berbagai pihak yang mendukung pelaksanaannya," ujar Darren dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip Senin, 7 September 2026.
Kolaborasi Jadi Kunci
Pembangunan fasilitas diawali dengan peletakan batu pertama pada Juni 2026 yang melibatkan pemerintah setempat, tokoh masyarakat, dan warga. Kini, setelah memasuki tahap operasional, Darren menilai pekerjaan sesungguhnya justru baru dimulai.
Menurutnya, keberhasilan sebuah proyek sosial tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan, tetapi juga dari sejauh mana fasilitas dimanfaatkan dan dirawat oleh masyarakat secara berkelanjutan.
"Membangun fasilitas adalah langkah pertama. Tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut benar-benar digunakan, dirawat, dan memberikan manfaat secara berkelanjutan bagi masyarakat," katanya.
Water Guardian menetapkan kawasan Kemayoran sebagai Site 1, yang akan menjadi lokasi pembelajaran untuk mengembangkan model sanitasi berbasis masyarakat. Tahap selanjutnya meliputi pemeliharaan fasilitas, pemantauan kualitas air, kebersihan dan higiene, hingga pengukuran dampak secara berkala.
Dari Membangun hingga Mengukur Dampak
Darren menjelaskan, Water Guardian dikembangkan melalui tujuh tahapan, yakni Build, Operate, Measure, Research, Improve, Replicate, dan Scale. Kerangka tersebut dirancang agar setiap proyek tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi terus dievaluasi dan disempurnakan sebelum diterapkan di komunitas lain.
"Apabila model Kemayoran nantinya terbukti efektif dan berkelanjutan, Water Guardian dapat mempelajari kemungkinan mereplikasi pendekatan tersebut di komunitas lain," ucapnya.
Ia juga mengaku Water Guardian menjadi pengalaman berharga dalam mempelajari kepemimpinan. Menurut Darren, menyelesaikan persoalan sosial membutuhkan kemampuan mendengarkan masyarakat, membangun komunikasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta menggerakkan kolaborasi lintas sektor.
Karena itu, ia menegaskan Water Guardian bukan proyek yang menempatkan seorang pelajar sebagai penyelamat komunitas, melainkan wadah kolaborasi antara generasi muda, masyarakat, pemerintah, sektor swasta, dan akademisi.
"Dengan kolaborasi kita dapat memberikan pengabdian yang maksimal kepada masyarakat," tuturnya.
Warga Apresiasi Kontribusi Generasi Muda
Inisiatif tersebut mendapat apresiasi dari warga Kemayoran. Salah seorang warga, Sueb, menilai langkah Darren menjadi bukti bahwa generasi muda mampu memberikan kontribusi nyata terhadap persoalan di lingkungan sekitar.
"Kami sebagai masyarakat sangat mengapresiasi semangat Darren. Aksi nyata Darren ini adalah representasi bahwa generasi muda Indonesia dapat mulai berkontribusi terhadap persoalan nyata di lingkungan sekitar mereka," imbuh Sueb.
Melalui Water Guardian, Darren berharap semakin banyak anak muda berani mengambil peran dalam menyelesaikan persoalan sosial. Baginya, kepedulian harus diikuti aksi, kolaborasi, pengukuran dampak, serta komitmen keberlanjutan agar manfaat yang dihasilkan benar-benar dirasakan masyarakat.










