TVRINews, Jakarta
Kementerian Luar Negeri melalui inisiatif ASEAN-ID Resilience dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyelenggarakan diskusi bertajuk “ASEAN Village to the World: Partnership for Sustainable Resilience Through the Development of ASEAN Sustainable Resilence Strategies” pada 30 Juli 2026. Kegiatan ini digelar di sela-sela Pertemuan Komite Penanggulangan Bencana ASEAN (ACDM) ke-48.
Diskusi tersebut membahas tindak lanjut atas prakarsa Indonesia pada Keketuaan ASEAN 2023 yang menempatkan desa dan komunitas lokal sebagai garda terdepan dalam membangun ketahanan terhadap perubahan iklim dan bencana.
Pembahasan juga sejalan dengan visi Asta Cita, khususnya dalam memperkuat pembangunan dari desa sebagai fondasi ketahanan masyarakat, termasuk ketahanan pangan dan energi.
Diskusi menegaskan pentingnya resiliensi desa dalam membangun ketahanan kawasan atas ancaman iklim dan resiliensi pangan. Dibahas pula konsep Sustainable Resilience atau Resiliensi Berkelanjutan yang tidak hanya diterapkan dalam penanggulangan bencana, tetapi diarusutamakan dalam berbagai sektor dan pilar kerja sama ASEAN.
Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB, Raditya Jati, menyebutkan bahwa forum ini sekaligus menjadi Upaya memperkuat peran Indonesia dalam menerjemahkan Visi Komunitas ASEAN 2045 menjadi aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
"Indonesia percaya bahwa masyarakat lokal yang resilien merupakan fondasi dari kawasan ASEAN yang resilien,” kata Raditya, dikutip Jumat, 31 Juli 2026.
Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT), Nugroho Setijo Nagoro menegaskan bahwa resiliensi berawal dari desa.
Ia mengusulkan tiga langkah untuk resiliensi desa ASEAN, meliputi desa sebagai inisiator utama, siklus pembangunan berbasis desa, serta bangun dukungan multipihak.
Dari kalangan akademisi, Wakil Dekan Universitas Padjadjaran, Yoga Andriana Sendjaja, menyoroti pentingnya peran perguruan tinggi dan pelibatan generasi muda dalam melestarikan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan desa yang berkelanjutan.
Sementara itu, perwakilan United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (UNOCHA), Iwan M. Raharja, mengapresiasi Tinjauan Strategis Resiliensi Berkelanjutan Indonesia yang komprehensif dan menyatakan kesiapannya untuk mendukung sinergi kerangka kerja ini ke tingkat global.
Pada forum ini, Indonesia mengajukan proposal untuk pembahasan lebih lanjut terkait implementasi ASEAN Leaders' Declaration on Sustainable Resilience yang diadopsi pada tahun 2023. Pembelajaran antarnegara anggota dan mitra juga diharapkan menjadi percontohan global untuk agenda Pasca-2030.
Dengan demikian, forum kemudian menghasilkan rekomendasi kebijakan dan peta kemitraan strategis yang memperkokoh posisi ASEAN sebagai kawasan yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan global.









