
Foto: Suasana Cara Pemasangan Tanggul Laut Proyek Tol Semarang-Demak dari Bambu (26/6)
Penulis: Lidya Thalia.S
TVRINews, Semarang
Pembangunan sebagian dari Jalan Tol Semarang–Demak memanfaatkan material bambu lokal sebagai solusi struktural yang efisien dan ramah lingkungan.
Kepala Satker Pembangunan Jalan Tol Semarang–Demak, Wandi Saputra menjelaskan bahwa bambu digunakan sebagai cerucuk dan matras, yaitu lapisan dasar sebelum timbunan pasir dan material selektif lainnya. Langkah ini diambil karena kondisi tanah di kawasan pesisir utara Jawa yang lunak dan memiliki daya dukung rendah.
“Kalau kita pakai tiang pancang di sini, biayanya bisa sangat tinggi karena kedalamannya ekstrem dan daya dukung tanahnya tidak memungkinkan. Maka dari itu, bambu menjadi solusi yang secara teknis sangat mungkin dan secara ekonomi jauh lebih efisien,”kata Wandi dalam keterangan yang diterima tvrinews.com, Kamis, 26 Juni 2025.
Selain pertimbangan teknis, pemilihan bambu juga didasari aspek lingkungan. Bambu dinilai sebagai material yang lebih ramah lingkungan dan tersedia dalam jumlah besar secara lokal.
“Kita manfaatkan sumber daya lokal. Jumlah bambu yang digunakan bisa mencapai jutaan batang, semuanya produk dalam negeri. Jadi ini sekaligus mendukung perekonomian lokal,” tambahnya.
Wandi juga menyebut bahwa struktur bambu ini telah melalui uji kekuatan dan dirancang untuk bertahan dalam jangka waktu minimal 10 tahun, termasuk pada sambungan struktur yang juga mendapat dukungan teknis dari pihak luar seperti Jerman.
Terintegrasi dengan Sistem Tanggul Laut dan Kolam Retensi
Lebih lanjut, proyek ini mengintegrasikan beberapa fungsi penting: jalan tol, tanggul laut, dan pengendali banjir. Di bagian tanggul, digunakan batu boulder untuk memperkuat perlindungan terhadap gelombang laut.
“Struktur ini kita bangun agar bisa berfungsi ganda, sebagai akses jalan tol dan sebagai tanggul laut untuk perlindungan pesisir,”ungkapnya.
Selain itu, dua kolam retensi juga dibangun, masing-masing di Terboyo. Kedua kolam ini menjadi bagian dari sistem drainase wilayah pesisir, yang memungkinkan pembuangan air ke laut saat terjadi banjir rob atau curah hujan tinggi.
“Kita pakai sistem boulder, di mana posisi muka air laut lebih rendah dari permukaan kolam. Dengan sistem inlet–outlet dan pompa, air dari kawasan Demak bisa dibuang langsung ke laut melalui dua kolam retensi ini,” pungkasnya.
Proyek Tol Semarang-Demak diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan banjir rob di kawasan pesisir Semarang–Demak, sekaligus memperkuat konektivitas infrastruktur di wilayah utara Jawa Tengah.
Editor: Redaktur TVRINews
