TVRINews, Tangerang
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengembangkan pendidikan karakter di 17 Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) melalui kegiatan ekstrakurikuler Pramuka dan pencak silat. Untuk mendukung program tersebut, Kemendikdasmen menyiapkan 102 pembina dan pelatih melalui Kursus Pengelola Gugus Depan dan Penataran Pelatih Pencak Silat Nasional di Tangerang, Banten.
Program ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI). Kolaborasi tersebut bertujuan membentuk murid yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, jiwa kepemimpinan, kedisiplinan, serta ketangguhan fisik dan mental.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, Sekolah Nasional Terintegrasi diarahkan untuk mencetak generasi yang memiliki kemampuan intelektual, moral, serta kesehatan jasmani dan rohani yang seimbang.
“Bagaimana agar lembaga pendidikan khususnya sekolah-sekolah unggul ini memang tidak hanya mencetak generasi yang unggul secara intelektual, tapi juga harus anggun secara moral dan memiliki fisik dan jasmani serta rohani yang kuat,”kata Mu’ti dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 9 Oktober 2026.
Menurut Abdul Mu’ti, pendidikan karakter harus mencakup pengembangan kemampuan berpikir, hati, perasaan, dan fisik. Dalam hal ini, Pramuka dan pencak silat menjadi sarana pembelajaran yang dapat membantu murid menerapkan nilai-nilai karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Pencak silat tidak hanya mengajarkan keterampilan bela diri, tetapi juga melatih pengendalian diri, ketahanan mental, dan pembentukan kepribadian. Sementara itu, kegiatan Pramuka memberikan ruang bagi murid untuk mengembangkan kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Abdul Mu’ti menambahkan, keberhasilan pelaksanaan pendidikan bermutu membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk organisasi yang memiliki kompetensi dalam pembinaan karakter.
“Kami memiliki prinsip bahwa mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua itu tidak dapat kita lakukan tanpa dukungan dan partisipasi semesta,”lanjutnya.
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Budi Waseso mengatakan, gugus depan merupakan bagian penting dalam penyelenggaraan pendidikan kepramukaan karena menjadi tempat bagi peserta didik untuk belajar dan mengembangkan karakter secara berkelanjutan.
“Di sanalah peserta didik kita belajar tentang arti kedisiplinan, tanggung jawab, kemandirian, kepemimpinan, kerja sama, kepedulian sosial, serta rasa cinta terhadap tanah air,” ucapnya.
Budi menjelaskan, pendidikan formal dan kegiatan kepramukaan perlu berjalan beriringan agar pembentukan karakter murid dapat berlangsung secara optimal. Integrasi kegiatan Pramuka di SNT diharapkan mampu menjadikan gugus depan sebagai wadah pembinaan karakter yang berkualitas dan tetap relevan dengan perkembangan zaman.
Dukungan serupa disampaikan Sekretaris Jenderal PB IPSI Abdul Karim Aljufri. Ia menilai pencak silat memiliki peran penting dalam membentuk kedisiplinan, keberanian, sportivitas, dan kemampuan mengendalikan diri, sekaligus menumbuhkan kecintaan murid terhadap warisan budaya bangsa.
Abdul Karim juga menyatakan kesiapan IPSI untuk bekerja sama dengan Kemendikdasmen dalam meningkatkan kompetensi pelatih dan mengembangkan pembelajaran pencak silat di sekolah.
Peningkatan kualitas pelatih diharapkan dapat mendukung pembinaan yang berkesinambungan, baik untuk pembentukan karakter maupun pengembangan prestasi murid.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Gogot Suharwoto mengatakan, 17 SNT yang mulai beroperasi pada Agustus 2026 telah menetapkan Pramuka dan pencak silat sebagai kegiatan ekstrakurikuler wajib.
Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut, Kemendikdasmen telah menyeleksi dan menetapkan 102 orang yang akan menjalankan tugas pembinaan Pramuka dan pelatihan pencak silat di seluruh SNT.
Gogot menegaskan, pembekalan bagi para pembina dan pelatih harus ditindaklanjuti melalui kegiatan nyata di setiap sekolah.
Dengan demikian, ekstrakurikuler tidak sekadar menjadi aktivitas tambahan, tetapi terintegrasi dengan proses pendidikan dan pembentukan karakter murid.
“Selain membangun karakter, kami berharap pembinaan yang terstruktur dapat membuka kesempatan bagi murid untuk mengembangkan bakat dan meraih prestasi, termasuk dalam pencak silat,”ungkap Dirjen Gogot.
Melalui kerja sama dengan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan PB IPSI, Kemendikdasmen berharap kegiatan ekstrakurikuler di 17 SNT dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar yang bermakna. Program ini diharapkan membantu murid mengembangkan potensi diri agar tumbuh menjadi generasi yang cerdas, mandiri, tangguh, berkarakter, peduli terhadap sesama, serta memiliki kecintaan terhadap bangsa dan negara.










