TVRINews, Jakarta
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno mengajak para sineas, kreator, operator video, hingga investor dari kawasan Asia Pasifik untuk menjadikan Jakarta sebagai destinasi produksi film. Ajakan tersebut disampaikannya saat tampil sebagai pembicara dalam Asia Pacific Video Operators Summit (APOS) 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis, 18 Juni 2026.
Dalam pemaparannya bertajuk "Unlocking Jakarta: City of Cinema, The New Incentives for Filmmakers and Creators", Rano memaparkan visi besar Jakarta sebagai Kota Sinema yang ramah terhadap industri kreatif. Menurutnya, selama ini rumah produksi kerap menghadapi berbagai hambatan, terutama proses perizinan yang berbelit dan melibatkan banyak pihak.
"Karena itu, kami meluncurkan layanan one stop film service, yaitu Filming in Jakarta. Kami mengundang para filmmaker, kreator, dan investor untuk membawa ide dan cerita mereka. Silakan berkarya di Jakarta," ujar Rano dalam keterangan tertulis, dikutip tvrinews.com dari laman Pemprov DKI Jakarta, Jumat, 19 Juni 2026.
Melalui Jakarta Film Commission yang berada di bawah Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta PT Jakarta Tourisindo (Jakarta Experience Board) melalui Strategic Business Unit Perfilman, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menghadirkan layanan Filming in Jakarta untuk mempermudah proses produksi film dan konten, baik nasional maupun internasional.
Tak hanya menawarkan kemudahan perizinan, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan berbagai insentif bagi pelaku industri perfilman. Salah satunya berupa diskon 50 persen penggunaan lokasi syuting di aset milik Pemprov dan BUMD DKI Jakarta.
Selain itu, pemerintah daerah juga memberikan pengembalian 50 persen pajak tontonan dari penjualan tiket film nasional di bioskop. Insentif tersebut diharapkan dapat membantu rumah produksi mengalokasikan kembali dananya untuk memproduksi karya baru sekaligus mengembangkan bisnis.
"Dukungan berupa diskon 50 persen untuk lokasi syuting di aset Pemprov dan BUMD DKI Jakarta, serta pengembalian pajak tontonan tiket bioskop untuk film nasional, ditujukan agar rumah produksi dapat menginvestasikan kembali dananya untuk memproduksi film serta mengembangkan bisnisnya," tuturnya.
Rano menilai, semakin banyak produksi film yang dilakukan di Jakarta akan memberikan efek berganda bagi daerah. Selain memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, kehadiran industri perfilman juga dapat menjadi sarana promosi pariwisata ibu kota dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Menutup paparannya, Rano mengundang seluruh pelaku industri film internasional untuk hadir dalam Jakarta Film Summit dan Jakarta Film Week yang akan digelar pada 19–25 Oktober 2026.
"Kami mengundang Anda semua untuk hadir dan berpartisipasi dalam perumusan insentif, memperluas jejaring, serta bersama-sama mengembangkan Jakarta sebagai Kota Sinema," ucapnya.










