TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menerima kunjungan delegasi Kementerian Riset, Teknologi, dan Antariksa Federal Jerman (BMFTR) serta perwakilan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta untuk membahas penguatan kerja sama di bidang mitigasi bencana geo-hidrometeorologi, khususnya sistem peringatan dini tsunami.
Delegasi Jerman dipimpin Deputy Director General International Department BMFTR, Sandra Lehneke, dan disambut langsung oleh Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama.
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi sejumlah kerja sama yang telah terjalin antara Indonesia dan Jerman, termasuk proyek Tsunami Early Warning System (TEWS) serta proyek mitigasi risiko tsunami bersama GFZ German Research Centre for Geosciences yang telah rampung pada 2024.
Selain mengevaluasi program yang sudah berjalan, kedua pihak juga membahas peluang kolaborasi baru, termasuk pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam sistem pemantauan dan analisis gempa bumi.
Ketua Tim Kerja Informasi Gempabumi dan Tsunami BMKG, Weniza, menjelaskan bahwa BMKG saat ini terus memperkuat sistem pemantauan bencana dari hulu hingga hilir melalui pengembangan model prediksi dan peningkatan jaringan sensor seismik.
"Untuk peringatan dini pertama, kami mengandalkan permodelan yang kami miliki. Tsunami Gauge yang ada saat ini kami optimalkan sebagai alat konfirmasi dan validasi riil di lapangan guna memastikan akurasi model tersebut," ujar Weniza dalam keterangan yang diterima tvrinews, Jumat, 19 Juni 2026.
Menurutnya, kecepatan proses validasi data menjadi faktor penting dalam sistem peringatan dini tsunami. Karena itu, kerja sama teknologi dengan Jerman, termasuk pemanfaatan AI, diharapkan dapat mempercepat pengolahan informasi sehingga masyarakat memiliki waktu evakuasi yang lebih panjang saat terjadi bencana.
"Kecepatan validasi data dari sensor ke sistem permodelan adalah aspek vital. Kolaborasi teknologi dengan pihak Jerman, termasuk rencana adopsi AI, diharapkan dapat memangkas waktu pemrosesan informasi secara signifikan agar waktu evakuasi masyarakat bisa lebih panjang,"jelasnya.
Sementara itu, Ketua Tim Mitigasi dan Tata Kelola Layanan Geofisika BMKG, Suci Dewi Anugrah, menekankan bahwa upaya mitigasi tidak hanya berfokus pada penguatan teknologi, tetapi juga peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman bencana.
Salah satu program yang terus dikembangkan adalah Earthquake and Tsunami Field School atau Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami. Program tersebut telah menjangkau lebih dari 200 wilayah rawan bencana di Indonesia untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dan pemerintah daerah terhadap informasi peringatan dini yang disampaikan BMKG.
Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 29 komunitas yang diakui oleh UNESCO Intergovernmental Oceanographic Commission sebagai Tsunami Ready Community. Kerja sama Indonesia dan Jerman diharapkan dapat mempercepat pengembangan komunitas tangguh tsunami sekaligus memperkuat standar kesiapsiagaan masyarakat terhadap ancaman bencana.
Sebagai bagian dari kunjungan tersebut, delegasi Jerman juga meninjau ruang simulasi gempa bumi di kantor pusat BMKG. Fasilitas itu memungkinkan peserta merasakan secara langsung simulasi kekuatan dan durasi guncangan gempa sebagai sarana edukasi dan peningkatan kesadaran kebencanaan.
BMKG menilai kolaborasi dengan Jerman menjadi langkah strategis untuk memperkuat transfer pengetahuan dan teknologi dalam mitigasi bencana. Kerja sama tersebut diharapkan mampu meningkatkan ketangguhan masyarakat serta memperkuat sistem peringatan dini yang lebih cepat, akurat, dan responsif terhadap ancaman bencana di masa mendatang.










