TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkuat operasi udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia. Operasi dilakukan melalui patroli udara, water bombing, hingga operasi modifikasi cuaca jika kondisi atmosfer memungkinkan.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, mengatakan patroli udara terus dilakukan untuk mendeteksi titik api dan kepulan asap di sejumlah wilayah.
“Kami tetap menggelar patroli udara untuk melihat titik-titik yang sedang terbakar, sedang ada asapnya, sehingga dengan mudah kita laksanakan water bombing ataupun pekerjaan-pekerjaan yang ada di lapangan,”kata Berton dalam konferensi pers, Selasa, 25 Agustus 2026.
Berton menyebut operasi udara dilakukan secara dinamis sesuai perkembangan kondisi karhutla. Armada yang tersedia dapat dialihkan ke wilayah lain apabila kebutuhan pemadaman meningkat.
Dalam operasi udara harian, BNPB mengerahkan armada di Sumatera Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
Di Kalimantan Barat, lima unit armada melakukan tujuh sorti dengan 263 kali drop dan menjatuhkan sekitar 1,052 juta liter air. Operasi tersebut mencatat luas area yang dipadamkan secara harian sekitar 90 hektare.
Sementara di Kalimantan Tengah, empat unit armada melakukan 265 kali drop dengan total sekitar 1,01 juta liter air, dengan luas area yang dipadamkan secara harian mencapai 23 hektare.
Berton menjelaskan jumlah armada udara dapat bertambah maupun dialihkan sesuai kondisi kebakaran di lapangan.
“Jumlah ini akan selalu berubah dan dinamis ketika ditemukan hal-hal yang baru, armada juga bisa ditambah, tetapi ketika di satu tempat api ataupun asap terlalu banyak, nanti pesawat yang di provinsinya bisa dialihkan ke provinsi yang lain,”lanjutnya.
Selain water bombing, BNPB juga tetap melakukan operasi modifikasi cuaca apabila terdapat bibit awan yang memenuhi persyaratan.
Penguatan operasi udara dilakukan bersamaan dengan pemadaman dan pendinginan melalui jalur darat. Langkah tersebut dinilai penting karena sebagian titik karhutla berada di lokasi yang sulit dijangkau dan memiliki karakteristik lahan gambut yang membutuhkan proses pendinginan lebih lama.
Berton menegaskan penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api di permukaan. Pendinginan harus dilakukan secara menyeluruh untuk mencegah api kembali muncul akibat bara yang masih berada di bawah permukaan tanah.










