TVRINews, Jakarta
Tim Layanan Dukungan Psikososial (LDP) Kementerian Sosial memprioritaskan kelompok rentan dalam memberikan pendampingan kepada penyintas gempa bumi di Nusa Tenggara Timur.
Tim LDP Kementerian Sosial, Igun Gunawan, mengatakan layanan psikososial diberikan terlebih dahulu kepada kelompok yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, ibu menyusui, dan penyandang disabilitas.
“Kami memberikan layanan kepada para kelompok rentan. Di kelompok rentan itu ada lansia, ibu hamil, menyusui, wanita, anak-anak dan disabilitas,”kata Igun dalam keterangan yang diterima tvrinews, Selasa, 25 Agustus 2026.
Layanan dukungan psikososial dilakukan di sejumlah titik pengungsian di Kabupaten Sikka, Nagekeo, dan Manggarai.

Di Kabupaten Sikka, sekitar 300 warga penyintas mendapatkan layanan setiap hari. Sementara di Kabupaten Nagekeo, layanan antara lain dilakukan di Aeramo dan Dikari, dengan jumlah penyintas yang terlayani mencapai ratusan orang.
LDP tidak hanya memberikan pendampingan psikologis. Tim juga melakukan asesmen kondisi psikologis dan keberfungsian sosial, Psychological First Aid (PFA), konseling terfokus, pendampingan anak dan dewasa, penjangkauan penyandang disabilitas, hingga rujukan bagi penyintas yang membutuhkan penanganan tenaga profesional.
Igun menjelaskan, asesmen dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui kebutuhan masing-masing penyintas. Hasil asesmen tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk layanan yang diberikan.
“Dari hasil asesmen itulah aktivitas untuk berkegiatan memberikan layanan. Ada yang memang warga penyintas itu membutuhkan pendampingan, ada yang membutuhkan rekreasional,”tuturnya.
Untuk membantu memulihkan keberfungsian sosial penyintas, tim juga menggelar berbagai kegiatan rekreasional, seperti senam pagi, bernyanyi, menari, menggambar, mewarnai, membuat kreasi, hingga kegiatan keagamaan.
Igun menegaskan, kegiatan rekreasional tersebut bukan untuk menangani trauma psikologis berat. Penyintas yang ditemukan mengalami gangguan berat akan dirujuk kepada psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan jiwa yang berkompeten.
Layanan ini diharapkan dapat membantu penyintas, khususnya kelompok rentan, melewati masa pemulihan pascagempa dan kembali menjalankan fungsi sosialnya secara bertahap.










