TVRINews, Nusa Tenggara Timur
Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) memperkuat operasi SAR di sejumlah wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT) dengan mengerahkan helikopter dan kapal SAR untuk menjangkau wilayah yang masih terkendala akses darat.
Kepala Basarnas Mohammad Syafii mengatakan, hingga pukul 9.00 WITA, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa mencapai 51 orang. Angka tersebut bertambah setelah tim SAR mengevakuasi tiga warga dalam kondisi meninggal dunia di Manggarai Timur dan satu korban di wilayah Manggarai.
“Update jam 9.00 (WITA) pagi hari ini, bahwa total korban meninggal dunia ada 51,” kata Syafii, Minggu, 16 Agustus 2026.
Kemudian, sebanyak 64 warga yang mengalami luka-luka, termasuk luka berat, telah mendapatkan penanganan.
Syafii mengatakan proses pencarian dan evakuasi masih menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Beberapa ruas jalan masih terdampak longsor, sementara gangguan jaringan komunikasi dan listrik terjadi di sejumlah wilayah, khususnya Manggarai Timur dan Nagekeo.
Untuk menjaga komunikasi selama operasi, tim SAR memanfaatkan jaringan Starlink agar tetap terhubung dengan pusat komando di berbagai wilayah.
“Namun, tim SAR masih menggunakan fasilitas Starlink yang bisa terhubung dengan pusat-pusat komando di seluruh Indonesia,” ujar Syafii.
Pada hari kedua operasi, Basarnas juga menambah dukungan melalui jalur udara. Helikopter Basarnas telah bergerak dari Bima menuju Labuan Bajo untuk memperkuat operasi di wilayah terdampak.
Syafii mengatakan, helikopter tidak hanya akan digunakan untuk evakuasi korban. Ketika tidak ada korban yang perlu dievakuasi menggunakan pesawat SAR, armada tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengangkut kebutuhan logistik.
“Jadi pada saat tidak ada warga yang harus dievakuasi dengan pesawat SAR, kami mengharapkan pesawat ini juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung atau menggeser logistik, baik itu kesehatan maupun logistik dukungan bantuan,” kata Syafii.
Kapal SAR yang berada di Labuan Bajo juga disiapkan untuk mendukung distribusi logistik. Langkah tersebut dilakukan karena sebagian wilayah masih menghadapi kendala akses, meskipun sejumlah ruas jalan mulai kembali terhubung.
“Begitu juga kapal SAR yang ada di Labuan Bajo ini juga bisa dimanfaatkan untuk pergeseran logistik. Karena alhamdulillah di hari kedua ini, untuk ruas jalan sebagian besar sudah bisa terhubung juga melalui jalan darat,” ucap Syafii.
Basarnas juga menyiapkan personel tambahan dari sejumlah kantor SAR. Tim penguatan tersebut berasal dari Makassar, Mataram, Surabaya, serta Basarnas Special Group (BSG).
“Perkuatan-perkuatan yang memang kami standby-kan dari beberapa kantor SAR juga sedang proses perjalanan menuju ke Flores, yaitu dari Makassar, dari Mataram, Surabaya, dan juga tim BSG yang juga kemarin sedang kami bawa bersama-sama dengan rombongan,” tutur Syafii.
Syafii mengajak masyarakat dan media untuk menyampaikan informasi apabila masih terdapat korban yang membutuhkan pertolongan atau evakuasi. Informasi tersebut akan menjadi bagian dari upaya memperluas pencarian di wilayah terdampak.
“Kami mengharapkan adanya interaktif dari seluruh lapisan masyarakat, khususnya teman-teman media, apabila masih ada korban yang membutuhkan penanganan khusus,” ujar Syafii.
Ia menegaskan Basarnas bersama seluruh tim SAR gabungan akan terus mengoptimalkan pencarian dan pertolongan dengan keselamatan masyarakat sebagai prioritas.
“Badan SAR Nasional sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah akan melaksanakan tindakan semaksimal mungkin untuk bisa menjamin bahwa keselamatan warga negara adalah prioritas,” kata Syafii.










