TVRINews, Banyuwangi
Empat siswi Sekolah Rakyat Banyuwangi menunjukkan kemampuan seni tari dengan tampil bersama 1.300 penari dalam Festival Gandrung Sewu 2026 di Pantai Boom, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu, 24 Oktober 2026. Partisipasi ini menjadi ajang bagi para siswi untuk mengembangkan bakat sekaligus memperkuat kecintaan terhadap budaya daerah.
Keempat siswi tersebut berhasil melewati seleksi ketat untuk tampil dalam pertunjukan tari kolosal yang menjadi salah satu agenda budaya unggulan Banyuwangi. Mereka adalah Nurul Hikmah Rania Safitri kelas XII, Ervina Dwi Nanda kelas XI, Mariyani Astuti kelas XI, dan Fenita Berlian kelas VIII.
Dalam pertunjukan tersebut, para penari tampil mengenakan kostum beludru hitam dengan ornamen kuning keemasan, kain batik, selendang, serta mahkota omprong. Penampilan mereka diiringi tabuhan gamelan dan didukung permainan tata cahaya serta pertunjukan drone yang menambah kemeriahan acara.
Festival yang memasuki penyelenggaraan tahun ke-14 ini mengusung tema Kembang Darmo. Konsep glow in the dark yang dihadirkan tahun ini membuat ribuan penari tampak bercahaya di tengah suasana malam di pesisir Selat Bali.
Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi jenjang SD dan SMP, Winarno, mengaku bangga atas terpilihnya empat peserta didik tersebut. Menurutnya, pencapaian itu menunjukkan bahwa siswa Sekolah Rakyat memiliki kesempatan untuk bersaing dan mengembangkan potensi melalui kegiatan seni.
“Saya atas nama keluarga besar Sekolah Rakyat Kabupaten Banyuwangi bangga kepada anak didik kami. Dari sekian banyak yang ikut ekstrakurikuler tari, ada empat anak yang terpilih melalui seleksi ketat,” ujar Winarno.
Ia berharap keikutsertaan tersebut dapat memotivasi siswa lainnya untuk berani mengembangkan bakat serta mengenal lebih dekat kesenian tradisional Banyuwangi.
“Semoga dari empat anak ini nantinya bisa menginspirasi adik-adiknya dan melalui kegiatan ini kita berharap anak-anak benar-benar bisa mencintai dan mengagumi budaya daerah, secara khusus Gandrung sebagai ikon Kabupaten Banyuwangi,” katanya.
Senada, Kepala Sekolah Rakyat Banyuwangi jenjang SMA, Chitra Arti Maharani, menyampaikan bahwa keterlibatan peserta didik dalam festival tersebut merupakan bagian dari upaya mengembangkan talenta sekaligus membangun kepercayaan diri siswa.
“Yang pertama, kami ingin mengambil peran sebagai masyarakat Banyuwangi. Kemudian juga untuk mengembangkan talenta anak-anak kami yang berbakat di bidang seni, khususnya tari,” ujar Chitra.
Ia juga mendorong siswa untuk berani menunjukkan kemampuan dan bersaing dengan talenta lain di luar lingkungan sekolah.
“Dari Sekolah Rakyat pun kalian bisa, karena harus punya percaya diri,” tegasnya.
Festival Gandrung Sewu 2026 tidak hanya menyuguhkan pertunjukan tari kolosal, tetapi juga membawa pesan budaya melalui tema Kembang Darmo. Kembang bermakna bunga, sedangkan darmo berarti memberi. Filosofi tersebut menggambarkan keikhlasan dan sikap berserah diri kepada Sang Pencipta dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Tari Gandrung merupakan kesenian tradisional masyarakat Osing Banyuwangi yang berkembang sebagai simbol identitas daerah. Tarian ini secara historis dikaitkan dengan ungkapan rasa syukur atas hasil panen dan penghormatan kepada Dewi Sri sebagai simbol kesuburan dalam tradisi Jawa.
Gerakan tangan yang lembut dan dinamis melambangkan rasa syukur serta penghormatan, sementara gerakan kaki yang berirama menggambarkan kerja keras dan ketekunan. Keselarasan gerakan para penari juga mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat.
Melalui Festival Gandrung Sewu, seni tradisional Banyuwangi diharapkan semakin dikenal luas, sekaligus menjadi sarana bagi generasi muda untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya.
Festival tersebut turut dihadiri Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, perwakilan InJourney, anggota DPR RI, perwakilan Kementerian Pariwisata, Tenaga Ahli Menteri Sosial Fajar WH, Analis Kebijakan Utama Kementerian Sosial Hasim, para kepala Sekolah Rakyat se-Jawa Timur, serta ribuan warga dan wisatawan domestik maupun mancanegara.










