TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat ada sebanyak 40 rektor perguruan tinggi swasta (PTS) yang mengikuti wisuda program APTISI Executive Rector Leadership Academy (AERLA) Angkatan I yang berlangsung pada 21–23 Oktober 2026. Di mana, program ini merupakan hasil kolaborasinya bersama dengan Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI).
Tak hanya itu, kolaborasi ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan dan tata kelola perguruan tinggi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan, penguatan kepemimpinan serta pertukaran praktik baik menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas pengelolaan perguruan tinggi.
Selain itu, Brian juga mengapresiasi inisiatif APTISI yang menghadirkan ruang pembelajaran bagi para pimpinan perguruan tinggi. Menurutnya, setiap kampus memiliki keunggulan dan pengalaman yang dapat menjadi referensi bagi perguruan tinggi lainnya.
“Berbagai keunggulan yang dimiliki oleh masing-masing universitas diharapkan bisa menjadi referensi untuk saling berbagi, untuk saling melihat apa kira-kira yang bisa dilakukan oleh kampus masing-masing,” ujar Brian dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Sabtu, 24 Oktober 2026.
Ia juga mendorong para rektor untuk membagikan pengetahuan, wawasan, dan pengalaman kepada perguruan tinggi lain, terutama kampus yang masih dalam tahap pengembangan.
“Pengetahuan, wawasan, keunggulan, pengalaman yang luar biasa dari Bapak-Ibu sekalian mohon ditularkan kepada kampus-kampus lainnya. Mohon dibantu kampus-kampus yang masih kecil, yang sedang tumbuh, juga dibantu untuk tumbuh,” katanya.
Menurut Brian, kolaborasi antarkampus diperlukan agar perguruan tinggi yang telah berkembang dapat berkontribusi dalam meningkatkan kapasitas institusi lainnya. Dengan demikian, peningkatan mutu pendidikan tinggi tidak hanya bertumpu pada masing-masing kampus, tetapi juga didukung oleh pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
Selain menjadi wadah pengembangan kepemimpinan, AERLA juga dimanfaatkan Kemdiktisaintek untuk menyosialisasikan kebijakan sekaligus menyerap masukan dari perguruan tinggi, khususnya PTS. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah meningkatkan kualitas layanan pendidikan tinggi sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
Brian turut menyoroti pentingnya kepemimpinan yang memahami karakteristik dunia akademik dan penelitian. Menurutnya, pengelolaan perguruan tinggi memiliki karakteristik berbeda dari dunia usaha karena tidak hanya berorientasi pada keuntungan finansial, tetapi juga harus memberikan manfaat sosial bagi masyarakat.
“Tentunya kepemimpinan yang memahami bagaimana dunia akademik dan dunia riset. Dunia pendidikan sedikit berbeda, artinya bagaimana tidak hanya profit-oriented, tapi juga ada keuntungan sosial,” ujar Brian.
Melalui program AERLA, Kemdiktisaintek berharap pertukaran pengalaman antarpimpinan perguruan tinggi dapat memperkuat tata kelola kampus, meningkatkan kapasitas kelembagaan, serta mendorong pemerataan kualitas pendidikan tinggi.
Sejalan dengan semangat Diktisaintek Berdampak, pemerintah terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan pendidikan tinggi. Sinergi tersebut diharapkan mampu meningkatkan mutu layanan pendidikan, memperkuat kepemimpinan perguruan tinggi, dan memperluas manfaat pendidikan tinggi bagi masyarakat.










