TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono menyoroti tingginya risiko gangguan kesehatan jiwa pada anak dan remaja. Ia menilai kondisi tersebut perlu dikenali sejak dini agar tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih serius.
Dalam paparan Mental Health Awareness, Jumat, 4 September 2026, Dante menyampaikan bahwa hasil pemeriksaan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menunjukkan gejala depresi dan kecemasan pada anak serta remaja sekitar 1,6 kali lebih tinggi dibandingkan dewasa dan lansia.
“Yang berbahaya bukan hanya gangguannya. Tetapi ketika kita tidak mengenalinya,” kata Dante dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, 4 September 2026.
Berdasarkan data CKG per Juli 2026, dari pemeriksaan kesehatan jiwa anak usia sekolah dan remaja, sebanyak 34.961 orang atau 1,08 persen menunjukkan gejala depresi. Sementara 33.290 orang atau 1,03 persen menunjukkan gejala kecemasan.
Pada kelompok dewasa dan lansia, gejala depresi tercatat sebanyak 186.629 orang atau 0,66 persen, sedangkan gejala kecemasan mencapai 157.434 orang atau 0,56 persen.
Dante juga menyoroti hasil Global School-Based Student Health Survey (GSHS) yang menunjukkan peningkatan persoalan kesehatan jiwa di kalangan pelajar usia 11–17 tahun.
Persentase siswa yang berpikir untuk mengakhiri hidup meningkat dari 5,4 persen pada 2015 menjadi 8,5 persen pada 2023, atau sekitar 1,6 kali lipat. Sementara siswa yang mencoba mengakhiri hidup meningkat dari 3,9 persen menjadi 10,7 persen pada periode yang sama, atau sekitar 2,7 kali lipat.
Dante mengingatkan, gangguan kesehatan jiwa dapat ditandai dengan perubahan fisik, emosi, maupun perilaku. Gejalanya antara lain perubahan pola tidur dan nafsu makan, perubahan suasana hati, kecemasan berlebihan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga penurunan konsentrasi dan performa di sekolah.
“Bagaimana kalau orang yang terlihat baik-baik saja sebenarnya tidak?” ucapnya.
Ia mendorong keluarga dan lingkungan sekitar untuk lebih peka terhadap perubahan yang dialami anak dan remaja. Jika sejumlah gejala muncul bersamaan dan berlangsung lebih dari dua minggu, bantuan perlu segera dicari, mulai dari berbicara dengan orang terdekat hingga berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Dante menegaskan, masyarakat tidak harus menjadi ahli untuk membantu seseorang yang sedang menghadapi persoalan kesehatan jiwa. Empat langkah sederhana yang dapat dilakukan yakni tanya, dengarkan, temani, dan hubungkandengan keluarga, tenaga profesional, atau layanan kesehatan yang sesuai.
“Orang dalam krisis bukan lemah atau kurang bersyukur, mereka butuh didengar, bukan disalahkan,” pungkasnya.










