TVRINews, Jakarta
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menerima kunjungan La Nyalla Mahmud Mattalitti bersama para pegiat Aksara Kawi dari Yayasan Satria Lelaku Nusantara di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta.
Pertemuan tersebut membahas penguatan pelestarian Aksara Kawi melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pengembangan ekosistem digital sebagai wadah bersama bagi para pegiat aksara.
Dalam pertemuan itu, Pembina Yayasan Satria Lelaku Nusantara La Nyalla Mahmud Mattalitti memaparkan rencana pembangunan Portal Aksara Kawi sebagai ruang kolaborasi yang menghubungkan berbagai komunitas sekaligus memperluas upaya pelestarian aksara di era digital.
"Kami akan membangun Portal Aksara Kawi sebagai ruang bersama untuk menghimpun komunitas, memperluas kolaborasi, dan memperkuat upaya pelestarian Aksara Kawi," ujar La Nyalla dalam keterangan yang diterima tvrinews, Rabu, 1 Juli 2026.
Senada dengan itu, Pemimpin Redaksi Portal Aksara Kawi, Rachmad Setiawan, menjelaskan portal tersebut dirancang menjadi pusat informasi sekaligus simpul kolaborasi bagi komunitas, akademisi, pemerintah, hingga pelaku industri budaya. Portal itu juga diharapkan dapat mendorong pengembangan UMKM berbasis Aksara Kawi, memperkuat kajian manuskrip, mendukung kaderisasi pegiat, serta menjadi bagian dari ekosistem digital pelestarian budaya.
"Portal media ini diharapkan dapat menjadi rumah bersama bagi komunitas Aksara Kawi yang mampu menyinergikan berbagai pihak dalam memajukan pelestarian aksara,"ungkap Rachmad.
Menanggapi inisiatif tersebut, Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengapresiasi langkah komunitas dalam menjaga keberlangsungan Aksara Kawi. Menurutnya, aksara merupakan bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan yang perlu terus dilestarikan melalui kerja sama berbagai pihak.
"Kami mengapresiasi segala bentuk upaya pemajuan kebudayaan, apalagi yang berkaitan dengan bahasa dan aksara sebagai bagian dari Objek Pemajuan Kebudayaan,"ungkap Menbud Fadli.
Fadli juga mengungkapkan Kementerian Kebudayaan saat ini tengah mendorong pengusulan aksara ke UNESCO. Menurutnya, Aksara Kawi memiliki peluang diajukan melalui skema joint nomination karena jejak penggunaannya juga ditemukan di Filipina, Thailand Selatan, dan Kamboja Selatan. Selain itu, opsi pengusulan melalui skema urgent safeguarding juga dinilai memungkinkan mengingat keberlangsungan Aksara Kawi perlu terus dijaga.
Selain pengusulan ke UNESCO, Kementerian Kebudayaan juga mendorong penyusunan ensiklopedia aksara Nusantara sebagai upaya mendokumentasikan dan memajukan berbagai aksara yang berkembang di Indonesia. Pemerintah turut mendukung rencana penyelenggaraan Kongres Aksara Kawi pada 2027 sebagai forum kolaborasi untuk memperkuat pelestarian dan pengembangan Aksara Kawi.
Melalui sinergi antara pemerintah dan komunitas, pelestarian Aksara Kawi diharapkan semakin berkembang, menjangkau masyarakat yang lebih luas, sekaligus memperkuat upaya pemajuan kebudayaan Indonesia melalui pelestarian bahasa, aksara, dan tradisi.










