TVRINews – Jakarta
Krisis Kemanusiaan Mengintai di Balik Cuaca Ekstrem
Dunia kini bersiap menghadapi fenomena iklim El Niño dengan intensitas yang diprediksi mencapai rekor tertinggi sejak 1950. Badan-badan kemanusiaan internasional memperingatkan bahwa pola cuaca ini berpotensi memicu bencana banjir masif sekaligus ancaman kelaparan yang meluas dari kawasan Afrika Timur hingga Asia Selatan.
Berdasarkan laporan terbaru dari International Rescue Committee (IRC) selasa 14 Juli 2026, negara-negara seperti Kenya, Somalia, Uganda, Pakistan, hingga Bangladesh menjadi titik paling rentan. Wilayah-wilayah tersebut dinilai memiliki daya tahan yang minim untuk menghadapi guncangan iklim tambahan di tengah kondisi darurat kemanusiaan yang sudah berlangsung.
"Kita sedang menyaksikan berbagai situasi darurat yang terjadi secara bersamaan. Wilayah yang paling tidak memiliki kesiapan untuk menahan guncangan justru berada di posisi paling depan dalam ancaman ini," ujar Bob Kitchen, pejabat senior bidang kedaruratan di IRC.
Data dari US Climate Prediction Center menunjukkan probabilitas 81 persen bahwa El Niño tahun ini akan menjadi salah satu yang terkuat dalam tujuh dekade terakhir, dengan puncak intensitas diperkirakan terjadi antara Oktober hingga Desember.
Ancaman Ketahanan Pangan Global
Fenomena El Niño, yang melibatkan pergeseran suhu permukaan laut di Pasifik, diprediksi akan memperburuk kondisi di wilayah yang sebelumnya telah terpukul oleh kekeringan dan konflik. Selain ancaman banjir, sektor pertanian diproyeksikan akan mengalami dampak serius.
Bank Dunia mengeluarkan peringatan bahwa jika El Niño mencapai potensi maksimalnya, hasil panen beras di wilayah Asia Selatan dan Afrika Timur dapat menurun drastis, yakni berkisar antara 20 hingga 50 persen. Mengingat beras adalah komoditas pangan pokok bagi ratusan juta penduduk, penurunan produksi ini dikhawatirkan memicu krisis ketersediaan pangan serta lonjakan harga yang tak terkendali.
Kekhawatiran ini semakin diperumit oleh ketegangan geopolitik global yang memengaruhi jalur pasokan energi dan pupuk. Kenaikan harga pupuk yang telah terjadi sepanjang tahun ini diprediksi akan semakin membebani petani di negara-negara terdampak.
Langkah Antisipasi Dini
Ilmuwan iklim Daniel Swain menyebut kenaikan suhu laut di Pasifik ekuatorial saat ini sebagai peristiwa dengan konsekuensi global yang sangat besar. Menanggapi potensi bahaya tersebut, otoritas di sejumlah negara telah mulai mengaktifkan rencana mitigasi bencana nasional.
Di Kenya, layanan meteorologi telah mengonfirmasi peluang hingga 82 persen bahwa dampak El Niño akan bertahan sepanjang tahun, mendorong pemerintah untuk segera menyiapkan langkah darurat menjelang periode curah hujan tinggi di akhir tahun.
Sementara itu, organisasi kemanusiaan mendesak komunitas internasional untuk segera mengalokasikan pendanaan bagi upaya pencegahan bencana. Menurut IRC, langkah proaktif jauh lebih krusial saat ini dibandingkan hanya menunggu dampak bencana terjadi, demi meminimalkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur di wilayah yang paling berisiko.










