TVRINews, Jakarta
Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia memberikan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan tur musik internasional bertajuk “Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia”. Kegiatan ini diinisiasi sebagai langkah strategis untuk memperkuat diplomasi budaya serta memperluas jangkauan musik Indonesia di kancah global.
Menteri Kebudayaan (Menbud) RI, Fadli Zon, menyampaikan hal tersebut saat menghadiri acara Taklimat Media “Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia” yang dilangsungkan di Music Lounge, Plaza Senayan, Jakarta.
Dalam sambutannya, Menteri Fadli Zon menegaskan bahwa kegiatan ini sangat sejalan dengan misi kementerian dalam mendorong pemajuan kebudayaan nasional. Landasan hukum penguatan seni ini turut diatur dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, di mana seni musik ditempatkan sebagai salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
“Budaya kita yang mega cultural diversity, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, merupakan ekspresi kebudayaan kita yang luar biasa. Dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, salah satunya musik, patut kita apresiasi. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini akan kami terus dukung dengan sekemampuan kita tentu bersama,” ungkap Menbud Fadli Zon dalam keterangan yang diterima TVRINews.com, Kamis, 20 Agustus 2026.
Rangkaian Tur Musik di Tiga Negara Eropa
Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia menampilkan musisi senior Tantowi Yahya bersama Thomshell Band. Rangkaian pertunjukan ini dirancang khusus untuk memperkenalkan kekayaan melodi, lagu-lagu daerah, serta narasi budaya Nusantara kepada masyarakat internasional di Eropa.

(Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon (tengah). [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
Jadwal dan lokasi rangkaian tur musik tersebut meliputi:
* Oslo, Norwegia – 24 Agustus 2026.
* Santa Susanna, Spanyol – 28 & 31 Agustus serta 1 September 2026.
* Den Haag, Belanda – 4 September 2026.
Tantowi Yahya menjelaskan bahwa pertunjukan ini memetakan kekayaan musikal Indonesia berdasarkan tiga zona waktu yang masing-masing memiliki karakter unik akibat akulturasi sejarah dan budaya:
1. Indonesia Bagian Barat: Kental dengan pengaruh Islam dan Melayu, menggunakan instrumen seperti gambus, mandolin, dan biola, serta vokal bercengkok khas.
2. Indonesia Bagian Tengah: Kuat dipengaruhi tradisi keraton dan Jawa dengan tangga nada pentatonis (slendro).
3. Indonesia Bagian Timur: Memiliki karakter khas yang dipengaruhi oleh budaya Pasifik dan kehidupan masyarakat pesisir.
Penguatan Ekosistem Musik dan Daya Saing Global
Lebih lanjut, Menbud Fadli menilai bahwa kehadiran musisi Indonesia di panggung dunia tidak hanya berfungsi sebagai sarana diplomasi lunak (soft diplomacy), tetapi juga memberikan dampak positif bagi penguatan ekosistem musik nasional secara keseluruhan.
Eksposur internasional, tambah Menbud, diyakini mampu meningkatkan daya saing musisi lokal, memperluas jejaring, serta membuka pintu peluang ekonomi dan kerja sama kreatif yang lebih luas di kancah global.
“Saya berharap kegiatan yang akan dijalankan tidak hanya menghibur tapi membawa pesan kebudayaan Indonesia, kekayaan budaya kita, dan menjadikan Indonesia visibel di dunia internasional,” pungkas Menteri Fadli Zon.










