TVRINews, Jakarta
Indonesia saat ini menjadi kontributor terbesar ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara dengan porsi sekitar 40 persen. Nilai ekonomi digital nasional bahkan diproyeksikan mencapai hingga USD360 miliar dalam beberapa tahun mendatang.
Meski demikian, besarnya pasar digital dinilai belum cukup untuk menjadikan Indonesia sebagai kekuatan teknologi global tanpa didukung penguatan ekosistem yang terintegrasi.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan, masa depan ekonomi digital Indonesia sangat bergantung pada kemampuan seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem digital yang kuat, mulai dari infrastruktur, pengembangan talenta, industri, hingga inovasi teknologi.
Dalam acara Digital Ecosystem Alignment (DEAL) 2026 di Jakarta Selatan, Nezar menjelaskan pemerintah telah mengidentifikasi delapan prioritas utama untuk memperkuat ekosistem digital nasional.
“Kita sudah mengeksplorasi delapan prioritas untuk pembangunan ekosistem digital di Indonesia dengan spektrum yang cukup luas dan rentang yang beragam, mulai dari peningkatan nilai tambah industri telekomunikasi sampai dengan peningkatan efisiensi biaya logistik nasional. Saya kira di setiap layer, seperti sudah disampaikan oleh Ibu Menteri tadi, ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperkuat ekosistem nasional,”kata Wamen Nezar Patria dalam keterangan yang diterima tvrinews, Rabu, 24 Juni 2026.
Menurutnya, pembangunan ekosistem digital merupakan bagian penting dari visi Indonesia Digital 2045. Langkah yang dilakukan saat ini akan menentukan kemampuan Indonesia dalam mencapai kemandirian teknologi pada masa mendatang.
“Tahap yang kita lalui sekarang akan menentukan apakah pada 2045 kita bisa mencapai tujuan strategis nasional kita untuk kemandirian teknologi. Penguatan kolaborasi adalah kata kunci yang paling penting yang harus sama-sama kita internalisasi dan bagaimana kita eksekusi,”jelasnya.
Ia menilai Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang berhasil membangun fondasi ekonomi digital melalui penguatan infrastruktur publik digital. Salah satu contoh yang disoroti adalah India yang dinilai sukses mengembangkan sistem identitas dan pembayaran digital sebagai motor pertumbuhan ekonomi digital nasional.
“Dengan India mungkin kita bisa belajar banyak bagaimana mereka mulai membangun ekosistem digital ini sepuluh tahun yang lalu, pada 2015. Apa yang mereka perkuat? Mereka memperkuat infrastruktur publik digitalnya,”ucapnya.
Nezar menjelaskan, pembangunan infrastruktur publik digital yang inklusif terbukti mampu memperluas akses layanan digital dan mendorong pertumbuhan sektor keuangan berbasis teknologi.
“Kita tahu India mencoba membangun satu sistem yang inklusif dengan membuat Unified Payment Interface atau UPI dan sistem Aadhaar. Dan itu bisa menjadi driver untuk financial services yang ada di India dan kemudian menjadi backbone untuk tumbuhnya ekosistem ekonomi digital yang ada di India,”tambahnya.
Selain memperkuat fondasi di dalam negeri, Indonesia juga didorong untuk meningkatkan peran dalam rantai pasok global teknologi digital, khususnya pada sektor kecerdasan artifisial (artificial intelligence atau AI). Menurutnya, penguasaan teknologi strategis menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing nasional.
“Kita lihat bagaimana setelah kekuatan ekosistem ini dibangun, perlu juga untuk diperhatikan bagaimana dengan kekuatan nasional yang kita miliki kita bisa menembus rantai pasar global. Saya kira ini yang paling penting, global supply chain dalam ekonomi digital, khususnya adopsi teknologi-teknologi yang advanced atau emerging technology, seperti misalnya artificial intelligence,” tegasnya.
Meski memiliki potensi besar, Indonesia saat ini masih berada pada tahap awal pengembangan AI dan belum menempati posisi strategis dalam rantai nilai global teknologi tersebut. Karena itu, pembangunan ekosistem digital harus diarahkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menciptakan inovasi dan nilai tambah.
“Komitmen kita untuk membangun satu ekosistem digital nasional harus punya tujuan strategis nasional yang sama-sama kita pegang sebagai north star ke mana kita menuju,” imbuhnya.
Nezar menyebut nilai ekonomi digital Indonesia diperkirakan mencapai USD105 miliar pada 2025 dan berpotensi meningkat hingga USD260 miliar sampai USD360 miliar di masa mendatang. Dengan kontribusi sekitar 40 persen terhadap ekonomi digital ASEAN, Indonesia memiliki peran besar dalam pertumbuhan ekonomi digital kawasan.
“Kontribusi Indonesia untuk ASEAN sekitar 40 persen. Kalau kawasan ASEAN bertumbuh 1 triliun USD, kita menyumbang 365 miliar USD. Saya kira kita punya share yang cukup besar dari pertumbuhan ekonomi digital di kawasan. Dan itu sangat ditentukan oleh kolaborasi yang kita buat di dalam ekosistem digital ini,”lanjutnya.
Melalui forum DEAL 2026, pemerintah berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antar pemangku kepentingan untuk mempercepat transformasi digital, meningkatkan daya saing nasional, dan mewujudkan kemandirian teknologi Indonesia.
“Indonesia tidak kekurangan talenta. Indonesia tidak kekurangan ide. Indonesia tidak kekurangan semangat. Yang kita perlukan adalah keberanian untuk bergerak bersama,”pungkasnya.










