TVRINews, Jakarta
Dompet Dhuafa menyalurkan bantuan logistik secara berkala dengan target total 81 ton melalui jalur darat dan laut untuk warga terdampak gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Penyaluran tahap awal sebanyak sembilan ton bantuan telah dilepas dari Labuan Bajo dan Ende menuju titik-titik bencana di Pulau Flores.
Pemberangkatan bantuan tersebut dilepas langsung oleh Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa Republika Ahmad Juwaini secara daring dari Jakarta pada Selasa, 18 Agustus 2026.
“Pada selasa 18/08/2026 operasi pencarian dan pertolongan dan respon darurat masih berlangsung, sejumlah akses jalan nasional masih mengalami hambatan dari tebing longsor di sejumlah wilayah. Untuk listrik dan komunikasi belum pulih total di sejumlah titik. Distribusi bahan bantuan terus dilakukan ke wilayah pelosok khususnya perbukitan,” kata Juwaini dalam keterangannya, Rabu 19 Agustus 2026.
Guna mempercepat penyaluran logistik dan penanganan medis, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa mendirikan Pos Induk di Nagekeo (Mbay) serta Pos Aju di Labuan Bajo. Pos pelayanan logistik dan kesehatan juga tersebar di Reok, Ruteng, Ronting, Maumere, Wera, dan Rota.
Kepala DMC Dompet Dhuafa Shofa Qudus menjelaskan bahwa pergerakan tim terus merambah ke wilayah-wilayah yang membutuhkan pasokan barang pokok.
“Saat ini pergerakan tim akan masuk ke berbagai wilayah. Tim sudah posisi di Ende dan menyiapkan logistik sebanyak 6-8 ton untuk distribusikan ke Nagekeo,” kata Shofa.
Ia menambahkan bahwa pembukaan pos logistik dilakukan secara paralel untuk menjaga kesinambungan pasokan barang ke daerah terisolir.
“Bantuan logistik akan terus kami gulirkan khususnya di wilayah Ronting yang sudah dari hari pertama kami melakukan penanganan, sementara itu akan membuat pos logistik baik di labuhan Bajo maupun Nagekeo,” tutur Shofa.
Tim DMC Dompet Dhuafa di lapangan, Eka, mengonfirmasi bahwa enam ton logistik diangkut menggunakan truk dari Ende menuju Nagekeo. Sementara itu, bantuan sebanyak enam ton juga dikirimkan melalui jalur laut yang turut didistribusikan bersama relawan Chiki Fawzi secara daring.
“bantuan yang akan dikirimkan melalui truk jalur darat, Alhamdulillah pasar sudah buka, namun toko dan kebutuhan lainnya masih sangat terbatas. Bantuan dengan sekitar 6 ton barang untuk diangkut dengan truk menuju Nagekeo (Mbay). Sementara itu Chiki Fawzi melalui kanal online juga ikut mendistribusikan barang logistik dengan jalur laut sebanyak 6 ton,” ujar Eka.
Di sektor kesehatan, Kemenkes dan tim medis Dompet Dhuafa memfokuskan pelayanan bagi kelompok rentan di area pengungsian, mengingat operasional sejumlah rumah sakit dan fasilitas kesehatan masih terbatas.
Tim Layanan Kesehatan Dompet Dhuafa dr. Yeni Purnamasari MKM. menyampaikan bahwa tim medis bergerak menyisir kawasan terdampak guna menjangkau para penyintas.
“Hingga sore ini tim layanan kesehatan terus melakukan pendampingan terutama bagi penyintas ibu hamil, balita dan ibu menyusui hal ini menjadi sasaran utama kami, selain itu kami juga menyisir wilayah terdampak yang kami harapkan dapat membantu para penyintas gempa dapat tertangani segera melihat kondisi beberapa fasilitas kesehatan dan rumah sakit masih mengalami hambatan,” kata Yeni.
Atas langkah tanggap darurat ini, Deputi Bidang Pencegahan BNPB Pangarso Suryotomo mengapresiasi kolaborasi Dompet Dhuafa dan berharap dukungan yang diberikan dapat berlangsung berkesinambungan hingga tahap pemulihan daerah.
“Koordinasi menjadi penting dalam tanggap bencana di seluruh titik NTT sehingga diharapkan dapat menjadi pemerataan bagi bantuan yang tersalurkan. Kendala saat ini karena daerah kepulauan hingga transportasi terbatas, inilah nilai lebih Dompet Dhuafa yang dapat menumbuhkan sumber daya lokal,” ujar Pangarso.
Hingga saat ini, Dompet Dhuafa telah memberikan pelayanan kepada 3.094 jiwa penerima manfaat yang mencakup distribusi logistik untuk 1.264 jiwa, layanan dapur umum bagi 1.560 jiwa, layanan kesehatan untuk 105 jiwa, pendampingan psikologis untuk 15 jiwa, serta evakuasi 150 warga.










