TVRINews, Jawa Tengah
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus mendorong pengembangan potensi ekonomi kreatif di tingkat desa sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Upaya tersebut dilakukan melalui Program Aktivasi Desa Kreatif di Desa Kadipaten, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah.
Program ini menghadirkan empat kegiatan utama, yakni pemanfaatan teknologi digital, penguatan musik berbasis komunitas, peningkatan kapasitas seni pertunjukan, serta pengembangan ruang kreatif yang inklusif dan berkelanjutan.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya menilai desa memiliki potensi ekonomi kreatif yang besar melalui kekayaan tradisi, seni, musik, dan kreativitas masyarakat. Potensi tersebut perlu dikembangkan agar memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
"Desa memiliki kekuatan ekonomi kreatif yang luar biasa, mulai dari kekayaan tradisi, musik, seni pertunjukan, hingga kreativitas masyarakat di ruang kreatif. Desa-desa di Wonosobo mempunyai akar budaya dan sejarah yang kuat, tetapi itu tidak berhenti menjadi kebanggaan saja. Berarti, harus mempunyai nilai ekonomi yang membuka peluang usaha dan lapangan kerja bagi masyarakat," ujar Riefky dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Selasa, 3 November 2026.
Menurutnya, pengembangan ekonomi kreatif desa membutuhkan kolaborasi lintas subsektor dengan melibatkan pemerintah daerah, praktisi, komunitas, serta para penggerak lokal atau local hero. Kementerian Ekraf juga mendorong agar potensi kreatif yang berkembang di tingkat desa dapat menjangkau pasar nasional hingga global.

"Kementerian Ekraf ingin terus mendukung lintas subsektor ekonomi kreatif yang menjadi kebanggaan bersama. Semangat local hero go national bisa berlanjut menjadi national champion go global. Kita melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah, praktisi, komunitas, dan pegiat ekraf dari desa yang diharapkan mereka saling bertukar pengetahuan serta jejaring untuk meningkatkan kapasitas produk maupun karya yang semakin berkembang," ucapnya.
Salah satu kegiatan dalam Aktivasi Desa Kreatif yakni Workshop Siap Talenta Jasa TIK bertema "AI sebagai Asisten Usaha: Kerja Lebih Ringkas, Keputusan Lebih Tepat". Pelatihan ini membekali pelaku usaha dan talenta digital dengan keterampilan memanfaatkan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional, mengotomatisasi pekerjaan rutin, serta mendukung pengambilan keputusan bisnis.
Manfaat pelatihan tersebut dirasakan Putri, pelaku usaha wedding organizer Rubio Enterprise. Ia mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pemanfaatan AI untuk mengembangkan bisnis, mulai dari strategi pemasaran hingga pencarian ide desain undangan dan konsep pernikahan.
"Ini sangat menyenangkan bagi kami pegiat ekraf karena acara ini memang sangat relevan untuk kebutuhan kita supaya bisa memaksimalkan fungsi AI untuk bisnis. Kalau sebelumnya kami menggunakan AI hanya sebatas untuk bertanya terkait teknis pekerjaan, tadi juga diajarkan mengembangkan bisnis dalam bidang marketing, mencari ide desain undangan, konsep pernikahan, dan lainnya," imbuh Putri.
Selain penguatan teknologi digital, Kementerian Ekraf turut mengembangkan subsektor musik melalui Bincang Kreatif Musik bertema "Membangun Desa Kreatif Berbasis Komunitas". Kegiatan ini mempertemukan pegiat musik lokal, peneliti budaya, dan penggerak ekosistem musik untuk memperkuat musik berbasis komunitas. Rangkaian kegiatan juga dilengkapi showcase musisi lokal sebagai ruang ekspresi dan kolaborasi.
Pada subsektor seni pertunjukan, penguatan kapasitas dilakukan melalui Workshop Harmoni Seni Pertunjukan bertema "Optimalisasi Seni Pertunjukan Lokal sebagai Daya Tarik Utama Wisata Unggulan Desa Giyanti".
Pelatihan ini mencakup pengemasan artistik, koreografi, tata panggung, dan kostum untuk meningkatkan kualitas pertunjukan sekaligus menarik wisatawan. Pengembangan tersebut tetap memperhatikan nilai spiritual dan pakem tradisi, termasuk kesenian khas Wonosobo seperti Bundengan dan Topeng Lengger.
Program ini juga mengedepankan prinsip inklusivitas. Salah satunya melalui keterlibatan Nanda, anak muda berkebutuhan khusus yang mengikuti kegiatan seni Bundengan.
"Saya bertemu seni Bundengan sejak SMP dan sampai sekarang terus dibimbing oleh Ibu Mulyani dari Sanggar Setyo Langen Budoyo. Alhamdulillah, melalui kesenian khas Wonosobo, saya menjadi lebih percaya diri dengan apapun kekurangan yang saya miliki. Saya berharap bisa menjadi contoh bagi teman-teman di luar sana agar tidak minder atau berkecil hati. Selama kita terus bersemangat dan berjuang, saya percaya akan memperoleh hasil yang maksimal," tutur Nanda.
Aktivasi Desa Kreatif juga dilakukan melalui pengembangan ruang kreatif sebagai wadah interaksi dan kolaborasi masyarakat. Ruang ini dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas pelaku kreatif, mengembangkan produk dan jasa, serta memberikan pendampingan dalam mengenali potensi, menentukan segmentasi pasar, dan mengembangkan kerajinan lokal seperti topeng dan kuda lumping.
Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menyambut baik pelaksanaan Program Aktivasi Desa Kreatif. Menurutnya, program ini dapat mendorong inovasi dan meningkatkan daya saing pelaku UMKM serta komunitas kreatif di daerah.
Salah satu potensi yang dikembangkan yakni produk olahan singkong khas Wonosobo, termasuk opak, agar memiliki nilai tambah dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
"Harapan dengan adanya Aktivasi Desa Kreatif hadir di Wonosobo tentu bisa terus kita upgrade potensi yang ada dengan edukasi dan pengembangan inovasi. Apalagi semua masyarakat desa harus beradaptasi dengan media sosial dan AI sehingga potensi-potensi lokal bisa tumbuh menjadi industri kreatif di Kabupaten Wonosobo dan pada akhirnya mengangkat perekonomian daerah," harap Afif.
Melalui Program Aktivasi Desa Kreatif, Kementerian Ekraf berharap potensi budaya dan kreativitas masyarakat Desa Kadipaten dapat berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang inklusif, adaptif, dan berkelanjutan, sekaligus membuka peluang usaha serta lapangan kerja bagi masyarakat setempat.









