TVRINews, Jawa Barat
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Sugiono menegaskan, upaya percepatan penurunan stunting tidak cukup hanya melalui pemenuhan asupan gizi. Perbaikan kualitas tempat tinggal, sanitasi, lingkungan, dan akses air bersih juga menjadi faktor penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Hal tersebut disampaikan Sugiono saat meninjau langsung pelaksanaan percepatan penurunan stunting dan implementasi program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita (3B) di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Senin, 2 November 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Sugiono meninjau sejumlah titik keluarga risiko stunting (KRS), berdialog dengan keluarga sasaran yang didampingi Tim Pendamping Keluarga (TPK), serta menyerahkan bantuan. Ia juga menghadiri Temu Kader Pendamping Keluarga di GOR Gotong Royong.
Dari hasil peninjauan langsung ke permukiman warga, Sugiono melihat bahwa persoalan stunting berkaitan erat dengan kondisi lingkungan tempat keluarga tinggal. Karena itu, intervensi pemerintah perlu diperluas, tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan bergizi.
"Kita lihat bahwa situasi stunting ini tidak semata disebabkan oleh asupan gizi semata, tetapi juga terlihat dari kondisi lingkungan di mana mereka tinggal. Ini kita jadikan evaluasi bahwa upaya pencegahan stunting bukan saja meneruskan program Makan Bergizi Gratis yang sudah ada. Tetapi juga upaya memperbaiki kualitas hidup, tempat tinggal, sanitasi, dan kualitas air yang dikonsumsi," kata Sugiono dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Selasa, 3 November 2026.
Menurutnya, percepatan penurunan stunting merupakan salah satu program pemerintah dalam rangkaian transformasi bangsa yang dicanangkan Presiden. Peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak dini menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan agenda tersebut.

Sejalan dengan upaya tersebut, pemerintah terus memperluas implementasi MBG bagi kelompok 3B. Hingga pertengahan Oktober 2026, program ini secara nasional telah menjangkau lebih dari 663 ribu ibu hamil, 1,7 juta ibu menyusui, dan 4,9 juta balita.
Intervensi pemenuhan gizi yang berkesinambungan sejak masa sebelum kehamilan hingga periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) juga menunjukkan hasil positif. Di Kabupaten Subang, prevalensi stunting terus menurun hingga berada di bawah rata-rata provinsi maupun nasional.
Capaian tersebut turut didukung peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang menjadi garda terdepan dalam upaya pencegahan stunting. TPK bertugas mendampingi keluarga mulai dari calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, balita, baduta, remaja, hingga lansia.
Selain melakukan pendampingan, TPK juga berperan dalam mengidentifikasi keluarga sasaran dan menghubungkannya dengan akses layanan kesehatan dasar, termasuk mendukung pendistribusian MBG 3B.
Melalui penguatan koordinasi lintas sektor, Kemenko PMK memastikan penanganan stunting berjalan lebih tepat sasaran dan terintegrasi. Upaya tersebut mencakup pemenuhan gizi, perbaikan lingkungan, keamanan pangan, serta edukasi pola asuh keluarga demi mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan tangguh.









