TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengirimkan 16 murid jenjang pendidikan menengah yang tergabung dalam delapan tim untuk mengikuti kompetisi internasional Young Inventors Challenge (YIC) 2026. Kompetisi yang berlangsung pada 12–19 Oktober 2026 di Jakarta ini menjadi wadah bagi para murid untuk menampilkan inovasi dan hasil penelitian di tingkat internasional.
Melalui Pusat Pengembangan Prestasi dan Karakter (Puspreska), Kemendikdasmen memberikan kesempatan kepada para murid untuk mengembangkan potensi dan kemampuan melalui kompetisi berbasis penelitian dan inovasi.
Kepala Puspreska, Rusprita Putri Utami, mengatakan pengembangan talenta murid perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan memberikan kesempatan kepada setiap murid untuk bertumbuh sesuai dengan potensi yang dimiliki.
“Setiap murid memiliki potensi dan keunikan masing-masing yang perlu dikenali, dikembangkan, dan diberikan ruang untuk bertumbuh agar mampu mencapai potensi terbaiknya. Semoga adik-adik meraih prestasi yang membanggakan di ajang Young Inventors Challenge,”kata Rusprita dalam keterangan tertulis, dikutip, Selasa, 20 Oktober 2026.
Persiapan delegasi Indonesia untuk YIC 2026 telah dimulai melalui Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) 2025. Sebanyak 12 tim pemenang OPSI yang terdiri atas 24 murid mengikuti pra pembinaan YIC pada 2–6 Maret 2026 di Jakarta.
Dalam kegiatan tersebut, para murid mempresentasikan hasil penelitian OPSI 2025 dan proposal penelitian sesuai format YIC. Mereka juga mendapatkan pendalaman materi untuk menyempurnakan proposal riset, penguatan visualisasi produk, serta pendampingan dari pembina dan alumni YIC.
Proses berlanjut melalui pembinaan tahap I dan II hingga menghasilkan delapan tim yang berhasil masuk dalam 32 besar finalis YIC 2026. Para peserta mengusung beragam inovasi di bidang teknologi, kesehatan, lingkungan, pertanian, hingga solusi untuk membantu masyarakat.
Presentasi dan sesi wawancara utama atau online viva session dilaksanakan pada Sabtu, 17 Oktober 2026.
Delapan Tim Indonesia dan Inovasi yang Diusung
Delapan tim yang mewakili Indonesia berasal dari sejumlah sekolah menengah dengan penelitian yang menawarkan solusi terhadap berbagai persoalan.
Tim PORTIS yang beranggotakan Cameela Ahmad dan Shaheza Aleesha Risky dari SMA Negeri 1 Sumenep mengembangkan DRAVIS: The Use of Drone Surveillance Equipped with YOLO Computer Vision Framework for Monitoring and Detecting Illegal Fishing. Penelitian ini memanfaatkan teknologi drone dan kerangka kerja computer vision YOLO untuk memantau serta mendeteksi praktik penangkapan ikan ilegal.
Berikutnya, Tim Tirto’s User, yang terdiri atas Hanin Naurayani Alifa dan Khariza Fazari Shafiya dari SMA Negeri 2 Ponorogo, mengembangkan Integrated and Automatically Controlled Irrigation System (TIRTO) for Rice Fields Based on Artificial Intelligence. Inovasi tersebut berupa sistem irigasi sawah terintegrasi dan otomatis berbasis kecerdasan artifisial.
Dari Sulawesi Selatan, Tim AGRITEVO yang beranggotakan Muhammad Rijal dan Salwa Salsabila Az dari SMAS Islam Athirah menghadirkan AGRITEVO: Internet of Things (IoT)-Based Rice Seedling Incubator Powered by Solar Energy. Penelitian ini berfokus pada pengembangan inkubator penyemaian benih padi berbasis Internet of Things (IoT) dengan memanfaatkan energi surya.
Sementara itu, Tim ChemisTwin yang terdiri atas Safira Laksmi Dewi dan Prayogo Aryobimo dari SMA Nasional KPS, Kalimantan Timur, mengembangkan NANOVA: Ecofriendly Cellulose Nanocrystals (CNC)-SiO₂-PDMS Superhydrophobic Coating for Robust Steel Protection. Inovasi tersebut berupa pelapis superhidrofobik ramah lingkungan untuk melindungi material baja.
Tim SCAB dari SMA Negeri 6 Yogyakarta, yang beranggotakan Revalina Marbun dan Kayra Naurin Aqueeni, mengusung EnviroSmart Device: Smart Guidance and Emergency Device for Visually Impaired. Mereka mengembangkan perangkat pemandu cerdas yang dilengkapi fitur pemberitahuan darurat bagi penyandang tunanetra.
Dari MAN 2 Kota Malang, Tim AKU DAH LUPA yang terdiri atas Fathan Abdillah Al Attar dan Fachry Bahtiar Rahadiansyah mengembangkan AlzScan: An Alzheimer’s Disease Detection System Using EfficientNetV2 and Multi-Head Self-Attention on MRI Images. Penelitian tersebut berfokus pada sistem pendeteksi penyakit Alzheimer melalui analisis citra MRI berbasis web.
Selanjutnya, Tim SYFORCE yang beranggotakan Muhammad Sulthan Fadhil Ardani dan Alrizta Winant Maliki Herdyanto dari MAN Insan Cendekia Pekalongan mengembangkan SIMUFLEX: A Wearable Spinal Curvature Measurement System Based on Fusion Sensor for Detecting Scoliosis. Inovasi ini berupa perangkat pakai untuk mengukur kelengkungan tulang belakang menggunakan sistem fusi sensor guna mendeteksi skoliosis.
Adapun Tim DewaCerva dari SMA Negeri 8 Jakarta, yang terdiri atas Muhammad Bagir dan Xahida Xena Xanadu Adam Talib, mengusung penelitian DewaCerva: Lipid-Polymer Hybrid Nanoparticles (LPNs) of Dewandaru (Eugenia uniflora L.) Leaf Extract for Cervical Cancer Therapy with Evaluation of p53, AKT and mTOR Pathways. Penelitian ini mengkaji potensi formulasi nanopartikel hibrida lipid-polimer berbasis ekstrak daun dewandaru untuk penelitian terapi kanker serviks melalui evaluasi jalur p53, AKT, dan mTOR.
Pembinaan Jadi Bekal Kompetisi Internasional
Koordinator Pembina YIC 2026, Abu Amar dari Institut Teknologi Indonesia (ITI), mengapresiasi kerja keras para murid yang telah mengikuti seluruh rangkaian pembinaan hingga berhasil melaju ke babak 32 besar. Ia berharap para peserta dapat memperoleh hasil terbaik saat pengumuman pemenang pada November 2026.
“Alhamdulillah untuk tahun ini luar biasa. Pada pra pembinaan, sebanyak 12 tim diseleksi menjadi sembilan tim. Selanjutnya, penelitian dari kesembilan tim dikirimkan dan sebanyak delapan tim berhasil melaju ke tahap 32 besar. Anak-anak sudah berusaha semaksimal mungkin. Mudah-mudahan saat pengumuman pemenang pada bulan November mendatang mendapatkan hasill terbaik,”ungkap Abu Amar.
Salah satu peserta, Muhammad Rijal dari Tim AGRITEVO, menjelaskan bahwa penelitian yang dikembangkan timnya bertujuan membantu petani mengurangi risiko kegagalan dalam proses penyemaian benih padi.
“Penelitian kami mengembangkan inkubator untuk menyemai kecambah benih padi. Tujuannya untuk meminimalisir kegagalan para petani dalam tahap penyemaian benih padi. AGRITEVO kami rancang dengan solar panel, ESP32, sensor kelembaban tanah, dan sensor suhu,”kata Rijal.
Sementara itu, Fachry Bahtiar Rahadiansyah dari Tim AKU DAH LUPA mengungkapkan pengalaman positifnya selama mengikuti pembinaan sebagai persiapan menghadapi kompetisi internasional tersebut.
“Pembinaan ini sangat seru dan bermanfaat untuk kami, khususnya dalam persiapan untuk berkompetisi di ajang Young Inventors Challenge,”ungkap Fachry.
Keikutsertaan para murid dalam YIC 2026 merupakan bagian dari implementasi Manajemen Talenta Murid yang mencakup tahapan identifikasi, pengembangan, aktualisasi, apresiasi, dan pemanfaatan talenta.
Melalui pengalaman berkompetisi di tingkat internasional, para murid diharapkan dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta keterampilan dalam menyampaikan gagasan ilmiah.
Sebagai informasi, Young Inventors Challenge merupakan kompetisi penelitian internasional yang diselenggarakan oleh Association of Science, Technology, and Innovation (ASTI). Ajang ini bertujuan mendorong kolaborasi antarmurid sekolah menengah untuk menghasilkan produk dan solusi inovatif dalam menjawab berbagai persoalan, termasuk yang berkaitan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Pengumuman pemenang YIC 2026 dijadwalkan pada November 2026 dan dapat disaksikan melalui kanal YouTube resmi Association of Science, Technology, and Innovation.










