TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menuturkan jika operasi darat tetap menjadi strategi utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau dan Jambi. Sementara, water bombing dan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) berperan sebagai pendukung.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton S.P. Panjaitan, mengatakan berdasarkan pantauan 24 jam terakhir, Provinsi Riau mencatat 150 titik panas (hotspot), dengan 8 titik berstatus tingkat kepercayaan tinggi. Luas lahan terbakar di wilayah tersebut mencapai 16.277 hektare, termasuk penambahan sekitar 12 hektare pada hari ini.
“Perkiraan cuaca secara umum cerah hingga berawan, sehingga TMC belum dapat dilaksanakan karena tidak ada potensi hujan,” ujar Berton pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Selain itu, ia menuturkan jika pihaknya telah mengerahkan 17.764 personel untuk operasi darat. Sementara operasi udara didukung 2 pesawat patroli dan 4 helikopter water bombing, setelah satu unit helikopter dimobilisasi ke provinsi lain.
Di Provinsi Jambi, BNPB mengerahkan 5.816 personel untuk penanganan karhutla. Luas lahan yang terbakar tercatat 658 hektare.
Operasi udara melibatkan 6 pesawat, terdiri dari 2 pesawat patroli dan 4 helikopter water bombing. Sebelumnya, operasi water bombing telah dilakukan pada 21 Agustus 2026, sedangkan TMC pernah dilaksanakan pada 3–12 Juni 2026.
Menurut Berton, tantangan utama di Jambi adalah lokasi titik api yang jauh dari sumber air, sementara cadangan air di lapangan mulai mengering akibat musim kemarau.
BNPB menekankan bahwa helikopter water bombing bukan merupakan operasi utama dalam penanganan karhutla, melainkan berfungsi mendukung pemadaman oleh satgas darat.
Saat ini BNPB menyiagakan armada TMC beserta stok bahan semai di setiap wilayah agar operasi modifikasi cuaca dapat segera dilakukan ketika tersedia potensi awan hujan. Pemerintah juga akan memperkuat satgas darat melalui dukungan logistik dan peralatan, seperti selang panjang, flexible tank, pompa jinjing, hingga sumur bor dangkal.
Ia juga mengimbau masyarakat, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara terdampak asap. Warga yang harus beraktivitas di luar diminta menggunakan masker.
Selain itu, masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar, tidak membakar sampah, serta memastikan bara puntung rokok benar-benar padam sebelum dibuang.










