TVRINews, Jakarta
Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA menjadi penyakit yang paling banyak dilaporkan di tengah penanganan pascagempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, hingga Minggu 23 Agustus 2026, tercatat 3.721 kasus ISPA pada masyarakat terdampak gempa.
Selain ISPA, terdapat pula 15 kasus gigitan hewan penular rabies yang dilaporkan dari Kabupaten Nagekeo dan Manggarai Timur. Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers update penanganan pascagempa bumi NTT, Minggu, 23 Agustus 2026.
"Perlu kami sampaikan bahwa kejadian penyakit tertinggi yang dilaporkan adalah ISPA sebanyak 3.721 kasus," kata Berton, Minggu, 23 Agustus 2026.
Untuk mendukung penanganan kesehatan, sebanyak 11.106 tenaga kesehatan saat ini telah bertugas di wilayah terdampak. Mereka terdiri atas 134 dokter, 5.306 perawat, 3.974 bidan, serta 1.647 tenaga kesehatan lainnya.
"Namun demikian, masih terdapat kebutuhan nakes dengan total 133 orang yang terdiri dari: dokter umum 63, dokter spesialis dalam 2, dokter spesialis anak 2, dokter spesialis ortopedi 5, dokter spesialis bedah 2, dokter spesialis bedah saraf 1, perawat umum 47, perawat ortopedi 2, perawat anestesi 4, dan
apoteker 5. Informasi lebih lanjut dapat menghubungi Pusat Krisis Kesehatan
Kemenkes," jelasnya.
Di sisi lain, dampak gempa terhadap fasilitas kesehatan juga masih cukup besar. Sebanyak 169 Puskesmas terdampak gempa, dengan rincian 101 Puskesmas telah beroperasi penuh, 49 beroperasi sebagian, dan 19 lainnya belum dapat beroperasi. Untuk memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan, BNPB turut mendukung pendirian tenda-tenda pelayanan kesehatan sementara.
Di Kabupaten Sikka, misalnya, telah didirikan delapan tenda di delapan titik untuk mendukung pelayanan kesehatan. Sementara di Kabupaten Manggarai terdapat 12 tenda, dengan empat di antaranya digunakan untuk mendukung pelayanan rumah sakit umum.
Penanganan kesehatan menjadi semakin penting mengingat jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 161.084 jiwa. Kabupaten Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi terbanyak, yakni 46.519 jiwa, disusul Nagekeo 34.256 jiwa dan Manggarai Timur 31.372 jiwa.
BNPB memastikan pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak, menjadi salah satu prioritas dalam penanganan bencana gempa NTT.










