TVRINews, Jakarta
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus mengedepankan upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi modifikasi cuaca sebagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau dan dampak El Nino.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan strategi yang diterapkan saat ini tidak lagi hanya berfokus pada penanganan kebakaran setelah terjadi, tetapi dilakukan sejak dini untuk menjaga kondisi lahan, khususnya kawasan gambut, agar tetap lembap dan tidak mudah terbakar.
"Kita melakukan pendekatan preventif, tidak hanya kita menunggu adanya kebakaran kemudian dipadamkan. Ketika muka air tanah sudah menurun, dilakukan modifikasi cuaca agar lahan gambut tetap jenuh air sehingga tidak mudah terbakar," ujar Teuku Faisal Fathani dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa, 28 Juli 2026.
Menurut Teuku, pelaksanaan operasi modifikasi cuaca didasarkan pada hasil pemantauan ilmiah terhadap kondisi muka air tanah di lahan gambut. BMKG memanfaatkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup serta berkoordinasi dengan Kementerian Kehutanan untuk menentukan lokasi dan waktu pelaksanaan operasi.
Ia menjelaskan, apabila muka air tanah di kawasan gambut mulai turun hingga mencapai batas tertentu, operasi modifikasi cuaca segera dilakukan untuk meningkatkan curah hujan sehingga kelembapan tanah tetap terjaga.
Teuku mengatakan pendekatan preventif tersebut mulai diterapkan setelah Indonesia mengalami kebakaran hutan dan lahan berskala besar pada 2015. Sejak saat itu, pemerintah mengubah strategi penanganan dari yang sebelumnya bersifat reaktif menjadi lebih mengutamakan pencegahan.
BMKG mencatat operasi modifikasi cuaca telah dilakukan sejak tahun 2000 dengan tingkat efektivitas mampu meningkatkan curah hujan sekitar 30 hingga 40 persen di wilayah sasaran. Teknologi tersebut dinilai membantu mengurangi potensi munculnya titik panas sekaligus menjaga kelembapan lahan gambut selama musim kemarau.
Selain untuk mencegah karhutla, operasi modifikasi cuaca juga dimanfaatkan untuk menjaga ketersediaan air di waduk, mendukung kebutuhan irigasi pertanian, penyediaan air baku, dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Teuku menegaskan seluruh pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dilakukan berdasarkan kajian ilmiah dan menggunakan bahan yang aman bagi lingkungan. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengurangi risiko bencana hidrometeorologi sekaligus menjaga ketahanan air nasional selama musim kemarau.









