TVRINews, Jakarta
Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan perempuan merupakan penggerak utama sektor pariwisata Indonesia.
Menurutnya, perempuan tidak hanya mendominasi tenaga kerja di industri pariwisata, tetapi juga menjadi motor penggerak UMKM, pelestari budaya, hingga pemimpin komunitas yang memperkuat daya saing destinasi wisata.
Hal tersebut disampaikan Wamenpar saat membuka Women's Leadership Forum 2026 bertema Women Leading Tourism: Membangun Destinasi yang Berkelas Dunia melalui Kepemimpinan, Inovasi, dan Kolaborasi di Kantor Lembaga Administrasi Negara, Jakarta.
"Penggerak utama sektor pariwisata itu adalah perempuan. Data UN Tourism juga menunjukkan bahwa 54 persen pekerja di sektor pariwisata adalah perempuan," kata Ni Luh dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 28 Juli 2026.
Ia menjelaskan perempuan hadir hampir di seluruh rantai nilai industri pariwisata. Mulai dari pengelola desa wisata, pemilik homestay, pelaku UMKM kuliner dan kriya, penenun, perajin, pemandu wisata, hingga pelestari seni dan tradisi yang menjadi identitas destinasi wisata Indonesia.
Menurut Ni Luh, kekuatan utama pariwisata Indonesia bertumpu pada kekayaan alam dan budaya. Dalam kedua aspek tersebut, perempuan memiliki peran strategis sebagai pelaku usaha, pemimpin komunitas, sekaligus penjaga nilai-nilai budaya yang menjadi daya tarik wisata nasional.
"Perempuan di sektor pariwisata memiliki peran yang sangat besar dalam memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat internasional," ujar Ni Luh.
Ia menambahkan sektor pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi yang paling inklusif karena lebih dari separuh tenaga kerjanya adalah perempuan.
Meski demikian, kesempatan perempuan untuk menduduki posisi kepemimpinan dan memperoleh penghasilan yang setara masih menjadi tantangan.
Ni Luh mencontohkan di industri perhotelan perempuan masih lebih banyak menempati posisi tertentu, seperti bidang pemasaran, sementara kesempatan menjadi pimpinan utama belum merata.
"Masih ada anggapan perempuan hanya menjadi pelengkap. Padahal tanpa perempuan, ekosistem pariwisata tidak akan bergerak," ucap Ni Luh.
Wamenpar mendorong hadirnya kebijakan afirmatif yang membuka akses lebih luas bagi perempuan untuk menduduki posisi strategis di sektor pariwisata.
Menurutnya, dukungan terhadap perempuan harus diwujudkan melalui kebijakan dan langkah nyata yang memberikan kesempatan kepemimpinan secara setara.
Ni Luh juga menyebut Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menjadi salah satu kementerian yang menunjukkan komitmen terhadap kesetaraan gender. Saat ini, jabatan Menteri Pariwisata (Menpar) maupun Wamenpar sama-sama diemban oleh perempuan.
Menurutnya, kepemimpinan di sektor pariwisata tidak hanya dituntut mampu mengambil keputusan, tetapi juga membangun kolaborasi serta menjadi penggerak berbagai pemangku kepentingan.
"Menterinya perempuan dan wakil menterinya juga perempuan. Jadi, kami di sana sangat menjunjung tinggi kolaborasi. Pemimpin pariwisata adalah pemimpin yang menjadi kolaborator, orkestrator, dan juga katalisator," ucap Ni Luh.
Menutup pemaparannya, Ni Luh mengajak seluruh perempuan untuk terus saling mendukung, memperkuat jejaring kepemimpinan, dan membuka lebih banyak ruang bagi perempuan dalam pembangunan pariwisata nasional.
"Memberikan akses kepada perempuan dan memberikan kepercayaan kepada perempuan bukan hanya soal menjadikan seorang perempuan sebagai pemimpin. Lebih dari itu, kita sedang menciptakan masa depan, membuka peluang, dan melahirkan generasi-generasi yang lebih baik," tutur Ni Luh.









