TVRINews, Sorong
Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Brawijaya menghadirkan berbagai inovasi dan solusi untuk menjawab persoalan masyarakat di Kawasan Transmigrasi Klamono–Segun, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Melalui dukungan teknologi dan pendampingan langsung, mahasiswa mendorong peningkatan akses kebutuhan dasar hingga pengembangan potensi ekonomi masyarakat setempat.
Sebanyak 20 Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya terlibat dalam berbagai program pendampingan. Sejumlah hasil kerja mereka di antaranya instalasi air bersih di Puskesmas Pembantu (Pustu) Wariyau, pendampingan pembuatan kapal nelayan berbahan fiber, hingga pengadaan pupuk kompos untuk mengatasi kelangkaan pupuk.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara meninjau langsung hasil kerja para mahasiswa tersebut. Ia menilai kontribusi Tim Ekspedisi Patriot sejalan dengan arahan Presiden agar perguruan tinggi tidak hanya berkegiatan di lingkungan kampus, tetapi juga hadir secara langsung untuk mengidentifikasi persoalan masyarakat dan memberikan solusi.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah keterbatasan akses air bersih di wilayah Wariyau. Melalui instalasi air bersih di Pustu setempat, Tim Ekspedisi Patriot berupaya membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
"Kita saksikan bahwa ini adalah salah satu saja dari karya yang diberikan oleh Tim Ekspedisi Patriot, yakni berupa pengadaan air bersih. Mengapa? Karena di sini air sangat sulit sekali. Yang bisa kita manfaatkan adalah air tanah dan air hujan, tetapi itu pun mungkin hanya bisa untuk mandi. Sementara untuk keperluan dapur dan sebagainya sulit sekali," ujar Iftitah dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com, dikutip dari siaran pers, Minggu, 1 November 2026.

Selain persoalan air bersih, pendampingan juga menyasar sektor perikanan dan pertanian. Di Segun, mahasiswa mendampingi masyarakat dalam pembuatan kapal nelayan berbahan fiber serta mendorong pengadaan pupuk kompos sebagai alternatif untuk mengatasi kelangkaan pupuk.
Sementara di sektor ekonomi, Tim Ekspedisi Patriot membantu masyarakat mengembangkan potensi lokal melalui pengolahan pisang menjadi keripik yang dapat dipasarkan. Upaya tersebut dilakukan agar komoditas yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal memiliki nilai tambah ekonomi.
Pengembangan potensi masyarakat juga dilakukan melalui Klamono Agro Living (KAL), kawasan berbasis agroforestri yang dirintis anak-anak muda setempat. Kawasan ini mengembangkan berbagai kegiatan produktif, mulai dari hidroponik, budidaya ikan, hingga peternakan bebek.
Salah satu petani muda Papua sekaligus perintis KAL, Theo Momot, mengaku terbantu dengan pendampingan Tim Ekspedisi Patriot. Ia mengatakan, sebelumnya kerap mengalami kegagalan dalam mengembangkan tanaman hidroponik.
"Ketika Tim Patriot masuk, saya sangat senang, karena ternyata masih banyak nutrisi atau bibit yang bagus, yang bisa menghasilkan hidroponik yang bagus untuk menambah pemasukan kami di sini," ungkap Theo.
Menurut Theo, pengembangan agroforestri di KAL kini telah mencapai hampir 60 persen. Pendampingan tersebut juga membuat para petani muda semakin percaya diri untuk mengembangkan sektor pertanian.
"Kita sebagai petani muda senang dengan apa yang telah diajarkan teman-teman Tim 18," ucap Theo.
Iftitah menegaskan, keberadaan Tim Ekspedisi Patriot tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat agar mampu mengembangkan potensi daerah secara mandiri.
"Kata kuncinya adalah pemberdayaan dan keberdayaan, yang jauh lebih penting daripada bantuan yang sifatnya instan. Memampukan dan memberdayakan masyarakat adalah proses transfer of knowledge dan transfer of technology yang lebih penting lagi bagi kita semua," tegas Iftitah.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Unti Ludigdo, menyebut pengembangan kawasan tersebut mulai menunjukkan terbentuknya embrio ekonomi sirkular.
"Embrio ekonomi sirkular sudah berjalan. Ini juga kita lakukan secara berkelanjutan. Mudah-mudahan keberlanjutannya tetap berjalan setelah kami meninggalkan area ini," tutur Unti.
Melalui berbagai inovasi dan pendampingan tersebut, Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya diharapkan dapat membantu masyarakat mengatasi persoalan di kawasan transmigrasi sekaligus memperkuat kapasitas lokal. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya menerima manfaat program, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk melanjutkan pengembangan potensi wilayah secara berkelanjutan.









