TVRINews, Jakarta
Plt. Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Samsuddin, mengatakan Kementerian Perhubungan mulai mematangkan persiapan penyelenggaraan Angkutan Laut Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 atau Nataru. Salah satu langkah utama yang dilakukan adalah memeriksa kelaiklautan sebanyak 2.140 kapal untuk memastikan keselamatan pelayaran selama periode libur akhir tahun.
Pemeriksaan kapal tersebut dijadwalkan berlangsung mulai 1 hingga 30 November 2026. Pemeriksaan meliputi kapal penumpang, kapal Ro-Ro, kapal tradisional, kapal wisata, hingga kapal cepat atau High Speed Craft.
Samsuddin menegaskan, keselamatan pelayaran menjadi prioritas utama yang tidak dapat ditawar dalam penyelenggaraan angkutan laut Nataru.
“Melalui uji kelaiklautan terhadap 2.140 kapal, kami memastikan aspek keselamatan kapal, pengawakan, pemuatan, serta perlengkapan keselamatan menjadi perhatian utama sebelum kapal beroperasi melayani masyarakat,” ujar Samsuddin, Minggu, 1 November 2026.
Dari total 2.140 kapal yang menjadi sasaran pemeriksaan, terdiri atas 511 kapal penumpang, 63 kapal Ro-Ro jarak jauh, 460 kapal Ro-Ro penyeberangan, 162 kapal tradisional, 821 kapal wisata, serta 123 kapal cepat.
Pemeriksaan mencakup sejumlah aspek, di antaranya kondisi teknis kapal, pencegahan pencemaran, kelengkapan awak kapal, garis muat, kapasitas penumpang, hingga penerapan manajemen keselamatan dan keamanan kapal.
Selain itu, petugas juga akan memastikan kesiapan alat keselamatan jiwa, alat pemadam kebakaran, jalur evakuasi, serta kemampuan kapal menghadapi kondisi cuaca buruk.
Khusus kapal wisata, pemeriksaan akan dilakukan secara langsung sebelum kapal diizinkan beroperasi. Kapasitas penumpang juga wajib disesuaikan dengan hasil pemeriksaan di lapangan sebagai salah satu persyaratan penerbitan Surat Persetujuan Berlayar atau SPB.
Di sisi lain, Kementerian Perhubungan juga menyiapkan peningkatan kualitas pelayanan di terminal penumpang pelabuhan. Sejumlah fasilitas yang menjadi perhatian meliputi ruang tunggu, loket tiket dan check-in, layanan informasi, fasilitas kesehatan, toilet ramah disabilitas, hingga ruang menyusui.
Penerapan tiket elektronik atau e-ticketing juga terus didorong untuk meningkatkan ketertiban pelayanan sekaligus mengendalikan arus penumpang di pelabuhan.
Sementara untuk mengantisipasi kepadatan pada lintasan penyeberangan Jawa-Bali, Ditjen Perhubungan Laut turut mengkaji sejumlah jalur alternatif sebagai alternatif lintasan Ketapang-Gilimanuk.
Beberapa rute yang tengah dibahas di antaranya Jangkar-Celukan Bawang, Tanjung Wangi-Celukan Bawang, serta Jangkar-Padang Bai.
Menurut Samsuddin, pengoperasian jalur alternatif tersebut masih harus mempertimbangkan kesiapan dermaga, kapal, serta dukungan operasional dan hasil koordinasi dengan pihak terkait.
“Pelaksanaan rute alternatif perlu mempertimbangkan kesiapan dermaga, kapal, dukungan operasional, serta hasil koordinasi dan penetapan lebih lanjut,” jelasnya.
Melalui berbagai langkah persiapan tersebut, Kementerian Perhubungan berharap penyelenggaraan Angkutan Laut Nataru 2026/2027 dapat berjalan aman, tertib, dan lancar. Pemeriksaan kelaiklautan kapal juga diharapkan mampu meminimalkan risiko kecelakaan serta memberikan rasa aman bagi masyarakat yang menggunakan transportasi laut selama libur Natal dan Tahun Baru.









