TVRINews, Jember
Pondok Pesantren Baitul Arqom Balung, Jember, Jawa Timur, terus merawat dan menjaga sanad keilmuan Pondok Modern Darussalam Gontor lintas generasi. Didirikan pada tahun 1959 oleh K.H. Abdul Mu'id Sulaiman bersama Kiai Mahin Ilyas dan Kiai Djawahir Abdul Muin, lembaga ini mencatatkan sejarah sebagai pesantren pertama di Indonesia yang didirikan oleh alumni Kulliyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) Gontor sekaligus memegang peranan krusial dalam peta pendidikan Islam di kawasan Tapal Kuda.
Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember saat ini, K.H. Izzat Fahd, menegaskan bahwa hubungan historis dan ideologis antara Baitul Arqom dan Gontor bukan sekadar afiliasi kelembagaan, melainkan keterikatan sanad keilmuan dan spirit perjuangan yang telah mengakar kuat selama empat generasi.

"Pengakuan bahwa Baitul Arqom merupakan pesantren alumni Gontor pertama bukan klaim sepihak dari kami, melainkan disampaikan langsung oleh dzuriat pendiri Gontor KH. Ahmad Hidayatulah Zarkasyi, begitu juga KH. Akrim Mariyat dan Alm. KH. Samsul Hadi Abdan. Nilai-nilai, sistem KMI, hingga Panca Jiwa Gontor telah menjadi ruh pendidikan di Baitul Arqom sejak awal berdiri hingga saat ini," ujar K.H. Izzat Fahd dalam keterangannya pada Minggu 27 September 2026.
Keterikatan Baitul Arqom dengan Gontor bertumpu pada silsilah keluarga pendiri yang secara konsisten menempuh pendidikan di KMI Gontor. Generasi pertama dimulai oleh K.H. Abdul Mu'id Sulaiman (lulusan 1943), dilanjutkan generasi kedua K.H. Masykur Abdul Mu'id (lulusan 1968), hingga generasi ketiga yakni K.H. Izzat Fahd (lulusan 2002) dan H. Ismat Syauqi (lulusan 2004).
Tradisi ini berlanjut ke generasi keempat melalui cucu pendiri seperti Basma Tania (alumni Mantingan 2019) dan Haekal Nawafie yang tengah menempuh jenjang Calon Pelajar di Gontor. Anggota keluarga lain yang tidak menempuh pendidikan langsung di KMI Gontor tetap belajar di PP Baitul Arqom yang sanadnya tersambung, seperti Iffat Maimunah dan Muhammad Imaduddin. Sementara Azmi Farhadi dipersiapkan menempuh pendidikan kedokteran untuk memperkuat aspek kesehatan lembaga.
"Sejak kakek saya lulus dari KMI Gontor pada tahun 1943, kemudian di lanjutkan KH. Masykur Abdul Muid tradisi menimba ilmu di Gontor terus berlanjut tanpa terputus. Jika dihitung dari buyut hingga keponakan keluarga besar KH. Abdul Muid Sulaiman ada lebih dari 30 hingga 50 anggota keluarga besar kami yang mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor. Ini adalah bentuk komitmen kami menjaga sanad keilmuan tersebut, jadi kami putra alm KH. Masykur Abdul Muid memang di persiapkan sebagai kader lembaga ini untuk meneruskan sanad kepondokmodernan dengan mengeyam pendidikan di Pondok Modern Gontor atau di Baitul Arqom " tutur Wakil Pimpinan PP Baitul Arqom, H. Ismat Syauqi.
Lahir di tengah dinamika perjuangan kemerdekaan, Baitul Arqom mengadopsi prinsip Gontor yaitu "Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan" guna mengatasi kondisi sosial yang sempat terkotak-kotak oleh batas primordial.
"Saat Baitul Arqom berdiri tahun 1959, kondisi sosial masyarakat saat itu sangat primordial. Masing-masing kelompok cenderung eksklusif. Almarhum kakek kami melihat bahwa model pendidikan Gontor adalah solusi yang paling tepat untuk menjembatani dan merangkul semua komunitas," jelas K.H. Izzat Fahd.
Ia menambahkan, model pendidikan tersebut terbukti mampu menyatukan santri dari berbagai latar belakang organisasi kemasyarakatan maupun daerah, mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua.
"Model pendidikan ala Gontor yang kami terapkan terbukti mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Santri kami berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari NU, Muhammadiyah, persis, al irsyad dan datang dari pelbagai pelosok Indonesia mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Begitu masuk Baitul Arqom, semuanya menyatu. Dan ketika lulus, mereka kembali mengabdi di komunitasnya masing-masing. Baitul Arqom hadir sebagai perekat umat," tegas K.H. Izzat Fahd.
Selama lebih dari enam dekade, pesantren ini telah melahirkan alumni yang berkiprah di tingkat nasional, salah satunya mantan Kapolri Jenderal Pol. (Purn.) Badrodin Haiti.
"Kami bersyukur alumni-alumni Baitul Arqom mampu berkiprah di puncak kepemimpinan nasional, seperti Bapak Badrodin Haiti di kepolisian, maupun yang mengabdi di lembaga-lembaga pendidikan baik di kota maupun di desa-desa. Harapan kami di usia pesantren yang terus matang ini, Baitul Arqom dapat terus memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Panca Jiwa," ungkapnya.
Ke depan, berada di kawasan agraris, PP Baitul Arqom terus mengembangkan potensi berbasis ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi umat tanpa mengesampingkan kurikulum KMI.
Direktur Badan Pemeliharaan, Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf dan Amal Usaha, H. Muhammad Imaduddin turut menyampaikan bahwa kedepannya Baitul Arqom diharapkan berkembang menjadi pesantren yang juga mampu menguatkan ketahanan pangan berbasis pertanian, melengkapi kurikulum KMI yang murni diterapkan.










