TVRINews, Yogyakarta
Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menyebut wali asuh dan wali asrama merupakan ujung tombak utama dalam membangun serta membentuk karakter para siswa di Sekolah Rakyat.
Pernyataan tersebut disampaikan saat menutup Pelatihan Pengasuhan bagi Wali Asuh dan Pengelolaan Asrama Sekolah Rakyat yang diikuti 200 peserta Regional Yogyakarta di Yogyakarta.
Wamensos menegaskan bahwa pendampingan terhadap para peserta didik harus dilakukan dengan pendekatan yang mengedepankan empati, perhatian, serta kasih sayang secara mendalam.

“Wali asuh dan wali asrama adalah ujung tombak dalam membangun karakter anak-anak di Sekolah Rakyat. Saya titip mereka, antarkan mereka, bangun karakter mereka, karena potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, hanya latar belakangnya yang berbeda,” ujar Agus Jabo dalam keterangannya dikutip, Minggu 27 September 2026.
Agus Jabo menjelaskan, keberagaman latar belakang sosial-ekonomi siswa menuntut para pengasuh untuk memahami kebutuhan setiap anak secara individual.
“Anak-anak ini pada dasarnya membutuhkan perhatian dari kita, pendampingan dari kita, kasih sayang dari kita. Karena itu, saya mohon para pendamping betul-betul memahami anak-anak, tidak hanya secara kolektif, tetapi juga secara individual,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penggunaan hati nurani dalam menghadapi dinamika perilaku siswa di lingkungan asrama.
“Kalau menggunakan logika formal, kebutuhan mereka akan terasa berat. Tetapi kalau kita menggunakan hati, kita bisa memahami bahwa mereka membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kasih sayang,” ujarnya.
Pendidikan di Sekolah Rakyat dirancang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berfokus pada pembentukan karakter mandiri dan berdaya saing.
“Yang bertugas membangun karakter di luar jam belajar di kelas adalah wali asuh dan wali asrama. Tujuannya adalah agar anak-anak menjadi pintar, berkarakter, dan mandiri,” lanjut Agus Jabo.
Kementerian Sosial memastikan komitmen pengawalan siswa dari keluarga kurang mampu hingga lulus agar siap melanjutkan studi, bekerja, maupun berwirausaha.
“Potensi mereka sama dengan anak-anak yang lain, cuma latar belakangnya yang berbeda. Tugas kalian menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang besar,” pungkasnya.
Salah satu peserta pelatihan dari SRMA 38 Lombok Timur, Baiq Windra Ishanda, mengapresiasi materi pelatihan yang memberikan pemahaman mendalam terkait peran pengasuh.
“Setelah mengikuti pelatihan, saya semakin memahami bahwa menjadi wali asuh dan wali asrama bukan hanya sebagai pendamping. Kami hadir sebagai ibu dan bapak bagi anak-anak, menjadi rumah kedua bagi mereka,” ujar Baiq.
Ia menambahkan bahwa kedisiplinan siswa di lingkungan sekolah dan asrama harus diawali dengan keteladanan nyata dari para pendamping.
“Pelatihan ini mengajarkan keteguhan, kesadaran, dan kedisiplinan dari diri sendiri agar bisa kami implementasikan di Sekolah Rakyat masing-masing,” katanya.










