TVRINews, Maluku
Di antara helai benang yang terjalin, ada harapan yang ikut ditenun. Harapan sekelompok wanita tegar yang tumbuh dari jalinan helai warisan budaya turun temurun, tenun ikat Tanimbar. Di Negeri Tawiri, Kota Ambon, Kelompok Tenun Mawar merawat amanah sembari membuka jalan bagi inovasi pewarna alami.
Bersama pendampingan Pertamina, langkah kecil ini berkembang menjadi upaya memperkuat usaha, memperluas pasar, dan merajut masa depan yang lebih berkelanjutan.
Warna memiliki bahasanya sendiri. Ia dapat menyimpan kenangan, menandai identitas, sekaligus menghadirkan peluang baru. Pada selembar wastra Tanimbar, warna bukan sekadar perpaduan rona yang memperindah motif. Di baliknya, ada keterampilan, pengetahuan, dan pilihan tentang bagaimana sebuah tradisi terus hidup mengikuti perubahan zaman.
Di Negeri Tawiri, Kelompok Tenun Mawar sedang menapaki perjalanan itu. Melalui usaha tenun ikat yang dinahkodai Lusi Kormasela, seorang mahasiswa Teknik Universitas Pattimura, kelompok ini berupaya mempertahankan kekhasan motif tradisional sekaligus mengembangkan inovasi dalam pewarnaan dan produk turunannya.
Perjalanan tersebut mendapat dukungan PT Pertamina melalui pendampingan pengembangan usaha. Tidak hanya membantu kelompok memperluas produk dan pemasaran, dukungan ini juga membuka ruang bagi pengembangan pewarna alami, sebuah langkah yang mempertemukan potensi alam dengan keterampilan menenun yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari Empat Anggota, Merajut Peluang Bersama
Kelompok Tenun Mawar berdiri pada 2019 dengan empat anggota yang masih memiliki hubungan keluarga. Seiring berjalanya waktu, kelompok ini berkembang hingga 20 orang. Dalam perkembangannya, tantangan yang dihadapi bukan hanya mempertahankan keterampilan menenun, tetapi juga memastikan produk memiliki nilai tambah dan dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Pertamina mulai mendampingi kelompok ini pada 2024. Dukungan diawali dengan pelatihan menjahit, kemudian dilanjutkan melalui bantuan mesin jahit dan mesin obras. Kelompok juga difasilitasi mengikuti pameran serta memperluas akses pemasaran.

Bagi kelompok usaha pengrajin seperti Tenun Mawar, keterampilan menghasilkan wastra merupakan fondasi. Namun, kemampuan mengolahnya secara lebih beragam membuka peluang baru membangkitkan usaha.
Sejak 2025, kelompok mulai mengembangkan produk turunan, seperti gelang, kalung, anting, dan gantungan kunci. Dengan dukungan peralatan dan keterampilan menjahit, mereka juga mengembangkan pakaian siap pakai berbahan tenun. Perubahan ini memperluas pilihan konsumen. Tenun tidak lagi hanya hadir sebagai lembaran kain, tetapi juga sebagai aksesori dan busana yang dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Iman Satrio Novianto dari Community Development Pertamina menjelaskan bahwa pendampingan tersebut berangkat dari potensi wastratenun yang dinilai dapat dikembangkan lebih jauh.
Menurutnya, pelatihan menjahit dan mendesain diberikan agar kelompok mampu menghasilkan sejumlah varian produk. Pertamina juga mendukung pengenalan produk melalui sarana pajang dan keikutsertaan dalam pameran di Ambon maupun di luar daerah.
Pendampingan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kemampuan usaha, sehingga keterampilan yang telah dimiliki dapat berkembang menjadi peluang ekonomi yang lebih luas.
Taman Warna, Inovasi yang Tumbuh dari Alam
Di balik pengembangan produk, Kelompok Tenun Mawar juga melihat peluang lain: menghadirkan warna dari alam.
Menurut Lusi, ketertarikan terhadap pewarna alami berawal dari pengalaman anggota kelompok yang mencoba memanfaatkan bahan-bahan yang mereka temukan sendiri. Prosesnya berlangsung secara otodidak, sebelum pengetahuan mereka berkembang melalui pelatihan pewarnaan alami.
Pengalaman tersebut membuka kemungkinan menghasilkan warna dengan karakter yang lebih beragam. Bagi kelompok Mawar, pengembangan ini bukan berarti meninggalkan tradisi, melainkan mencari cara baru untuk memperkaya karya tanpa kehilangan identitasnya.

Bersama Pertamina, kelompok kemudian merintis pengembangan Taman Warna Sirih Awat Tanimbar. Area ini direncanakan menjadi tempat pengembangan tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber pewarna alami, antara lain indigo, secang, dan kunyit.
Iman Satrio Novianto menjelaskan bahwa pengembangan Taman Warna merupakan bagian dari inovasi yang didorong melalui kolaborasi dengan kelompok. Selain pengembangan tanaman, pelatihan pengolahan warna juga menjadi perhatian agar kelompok dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan.
Inisiatif ini membawa gagasan yang sederhana tetapi penting, potensi alam di sekitar masyarakat dapat menjadi bagian dari proses penciptaan nilai tambah bagi produk lokal.
Namun, inovasi pewarna alami bukan semata-mata soal mengganti satu jenis pewarna dengan jenis lainnya. Proses pengolahan, penggunaan air, pemanfaatan bahan baku, dan pengelolaan sisa produksi tetap perlu diperhatikan agar manfaat lingkungannya dapat diwujudkan secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, Taman Warna bukan hanya gagasan tentang tanaman pewarna. Ia merupakan peluang untuk mengembangkan pengetahuan, memperkuat identitas produk, dan membuka jalan bagi praktik produksi yang lebih memperhatikan keberlanjutan.
Tradisi yang Beradaptasi, Pasar yang Meluas
Bagi Lusi, pengembangan pewarnaan tidak berarti mengubah seluruh identitas tenun yang telah dikenal. Motif tradisional Tanimbar tetap dipertahankan, sementara pengembangan warna dan perpaduannya memberi ruang bagi kreativitas.
Kelompok tersebut memadukan warna sesuai perkembangan tren fesyen, misalnya terracotta dengan krem dan warna lain yang serasi. Pendekatan ini memungkinkan wastratenun memiliki tampilan yang beragam tanpa meninggalkan motif tradisional.
Menurut Lusi, konsumen juga menunjukkan ketertarikan terhadap wastradengan pewarnaan alami karena karakter bahan yang dirasakan lebih lembut dan lentur. Pengalaman konsumen tersebut menjadi salah satu alasan bagi kelompok untuk terus mengembangkan variasi produknya.

Pemasaran dilakukan melalui rumah produksi, pameran, serta media sosial seperti Instagram dan TikTok. Pertamina membantu kelompok memperluas akses pasar melalui fasilitasi pameran, sementara pengelolaan promosi di media sosial dilakukan kelompok secara mandiri.
Perpaduan pemasaran langsung dan digital memberikan kesempatan agar produk Tenun Mawar dikenal oleh calon pembeli di luar Ambon. Pameran juga menjadi ruang untuk memperkenalkan kekhasan wastratenun kepada masyarakat yang lebih luas.
Lusi menyampaikan bahwa pengembangan produk turunan turut membantu penjualan karena konsumen memiliki pilihan produk dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan wastra tenun. Meski demikian, besarnya peningkatan penjualan dan dampaknya terhadap pendapatan anggota masih perlu ditunjukkan melalui data agar perubahan ekonomi kelompok dapat diukur secara lebih jelas.
Di sinilah pendampingan usaha menjadi penting. Bantuan peralatan, pelatihan, pengembangan bahan baku, dan akses pemasaran saling melengkapi untuk membuka peluang pertumbuhan usaha.
Energi Kolaborasi untuk Masa Depan
Bagi Kelompok Tenun Mawar, masa depan usaha tidak hanya ditentukan oleh banyaknya produk yang dapat dihasilkan. Kemampuan mempertahankan keterampilan tradisional, mengembangkan kreativitas, dan menyiapkan generasi penerus juga menjadi bagian penting dari perjalanan mereka.
Lusi berharap budaya menenun tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Baginya, anak muda tidak cukup hanya mengikuti perkembangan teknologi. Mereka juga perlu mengenal dan melanjutkan budaya yang menjadi bagian dari identitas masyarakat.
Harapan itu sejalan dengan upaya mengembangkan usaha melalui kolaborasi. Pertamina memberikan dukungan pada peningkatan keterampilan, peralatan produksi, pemasaran, dan pengembangan pewarna alami, sementara kelompok tetap menjadi pelaku utama yang mengolah pengetahuan dan keterampilan tersebut menjadi karya.
Perjalanan Tenun Mawar memperlihatkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang sepenuhnya baru. Ia dapat tumbuh dari tradisi yang dipelajari kembali, bahan alam yang dikenali potensinya, serta keterampilan yang dikembangkan melalui pendampingan.
Dari Negeri Tawiri, benang-benang itu terus dirangkai. Tradisi menjadi akar, inovasi membuka kemungkinan, dan kolaborasi memperkuat langkah menuju masa depan.
Di tangan Lusi dan anggota Kelompok Tenun Mawar, warna dari alam menjadi bagian dari ikhtiar yang lebih luas: menjaga warisan budaya agar tetap hidup, mengembangkan usaha agar memiliki peluang bertumbuh, dan merajut harapan bagi keberlanjutan generasi mendatang.










