TVRINews, Jakarta
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mendorong keamanan pangan menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas layanan desa wisata di Indonesia.
Upaya ini dilakukan melalui penguatan kolaborasi Kementerian Pariwisata (Kemenpar) dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Widiyanti mengatakan keamanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kesehatan masyarakat, tetapi juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan wisatawan dan meningkatkan daya saing destinasi.
“Kegiatan ini merupakan wujud nyata tindak lanjut kerja sama antara Kementerian Pariwisata dan BPOM. Sinergi ini menjadi langkah strategis agar keamanan pangan menjadi bagian tak terpisahkan dari layanan pariwisata, sehingga desa wisata tidak hanya menarik untuk dikunjungi, tetapi juga aman untuk dinikmati,” kata Widiyanti dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 20 Oktober 2026.
Kolaborasi tersebut mengintegrasikan program Desa Pangan Aman yang diinisiasi BPOM dengan program Desa Wisata Kemenpar.
Pelaksanaannya mencakup edukasi, pendampingan, dan pemberdayaan masyarakat agar mampu memilih, mengolah, memproduksi, serta mengonsumsi pangan yang aman.
Menurutnya, penguatan keamanan pangan perlu menjadi perhatian dalam pengembangan desa wisata karena pengalaman wisatawan kini tidak hanya ditentukan oleh keindahan alam dan atraksi budaya.
Interaksi dengan masyarakat setempat, kuliner tradisional, serta produk khas daerah juga menjadi bagian penting dari pengalaman perjalanan.
“Oleh karena itu, keamanan pangan menjadi aspek penting yang harus kita jaga bersama untuk memastikan setiap pengalaman wisata berlangsung aman, nyaman, dan berkualitas,” ujar Widiyanti.
Saat ini, lebih dari 6.300 desa wisata telah terdaftar dalam platform Jejaring Desa Wisata (Jadesta) yang dikelola Kemenpar.
Potensi tersebut dinilai dapat semakin memperkuat ekonomi lokal apabila didukung layanan yang berkualitas, termasuk penyediaan makanan dan minuman yang aman bagi wisatawan.
Widiyanti berharap kolaborasi dengan BPOM dapat menjangkau lebih banyak desa wisata sehingga manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat. Pengembangan destinasi, kata dia, perlu berjalan seiring dengan peningkatan kesehatan, kualitas hidup, dan keberlanjutan lingkungan sosial.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola destinasi, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta masyarakat dalam menerapkan keamanan pangan di lingkungan wisata.
“Inilah esensi sinergi yang kita dorong, memastikan desa wisata tidak hanya menjadi destinasi yang menarik untuk dikunjungi, tetapi juga menjadi ruang hidup yang sehat, produktif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Kami berharap model ini dapat direplikasi di desa wisata lain di seluruh Indonesia,” tutur Widiyanti.










