TVRINews, Jakarta
Sektor pariwisata Indonesia mencatatkan pertumbuhan positif selama dua tahun pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto dan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming.
Selain meningkatkan kunjungan wisatawan, sektor ini turut berkontribusi terhadap perekonomian nasional melalui penyerapan tenaga kerja, investasi, dan perolehan devisa.
Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana mengatakan pembangunan pariwisata kini tidak hanya berorientasi pada jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga pada dampak ekonomi yang dirasakan masyarakat serta pemerataan manfaat di berbagai daerah.
“Dua tahun terakhir, pariwisata Indonesia terus bertumbuh. Tahun 2025 menjadi salah satu tahun penting bagi pertumbuhan pariwisata Indonesia dan momentum itu berlanjut hingga 2026,” kata Widiyanti dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 20 Oktober 2026.
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata (Kemenpar), sektor pariwisata menyerap 25,91 juta tenaga kerja pada 2025, menjadi angka tertinggi dalam sepuluh tahun terakhir. Sektor ini juga menghasilkan devisa sebesar 18,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp305,47 triliun sepanjang tahun yang sama.
Pada 2025, Indonesia menerima 15,39 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), meningkat 10,80 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui target nasional 14–15 juta kunjungan.
Sementara, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) mencapai 1,2 miliar perjalanan, tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.
Tren pertumbuhan berlanjut hingga Agustus 2026 dengan 10,58 juta kunjungan wisman, tumbuh 5,38 persen secara tahunan, serta 842,15 juta perjalanan wisnus, meningkat 4,29 persen.
Widiyanti menyebut pertumbuhan pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat kedua di antara lima ekonomi besar Asia Tenggara.
Pertumbuhan tersebut juga diikuti pemerataan destinasi. Pada triwulan I 2026, kunjungan wisman ke kawasan Manado-Likupang meningkat 60,42 persen, sedangkan Danau Toba tumbuh 33,40 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Dari sisi perjalanan wisnus, Danau Toba mencatat pertumbuhan 106,68 persen pada periode 2025–2026, disusul Lombok-Gili Tramena sebesar 75,45 persen.
“Pariwisata semakin berkembang di berbagai daerah, yang artinya aktivitas pariwisata menciptakan lebih banyak peluang ekonomi bagi masyarakat,” ujar Widiyanti.
Selain kunjungan wisatawan, investasi turut menunjukkan perkembangan positif. Investasi sektor pariwisata pada 2025 mencapai Rp73,56 triliun, kemudian tercatat Rp39,68 triliun pada semester I 2026.
Di enam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata, investasi pada semester I 2026 mencapai Rp1,4 triliun dan menciptakan 1.858 tenaga kerja baru. Sementara itu, lima KEK lain yang memiliki aktivitas pariwisata mencatat investasi Rp4,5 triliun dengan penyerapan 1.621 tenaga kerja baru.
Kementerian Pariwisata juga mencatat rata-rata pengeluaran wisman pada semester I 2026 meningkat 6,36 persen menjadi 1.313 dolar AS atau sekitar Rp22,59 juta per kedatangan.
Belanja wisatawan tersebut mengalir ke berbagai kebutuhan, seperti akomodasi, makanan dan minuman, cendera mata, hiburan, serta paket wisata lokal.
Dampaknya dinilai penting bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), mengingat lebih dari 95 persen usaha pariwisata digerakkan oleh sektor tersebut.
Widiyanti menegaskan investasi pariwisata tidak sebatas pembangunan hotel atau fasilitas baru, tetapi juga mendorong aktivitas usaha, permintaan barang dan jasa, serta penciptaan lapangan kerja.
Kemudian, Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mengatakan pemerataan manfaat pariwisata terlihat dari perkembangan desa wisata. Hingga September 2026, lebih dari 6.300 desa wisata tercatat dalam Jaringan Desa Wisata (Jadesta).
Pemantauan Kemenpar terhadap 66 desa wisata menunjukkan pendapatan desa dari pariwisata meningkat 29,62 persen, dari Rp46,05 miliar pada 2024 menjadi Rp59,70 miliar pada 2025.
Kunjungan wisman ke desa-desa tersebut meningkat 35,48 persen, dari 54.922 menjadi 74.409 kunjungan. Perjalanan wisnus juga tumbuh 45,17 persen, dari sekitar 1,55 juta menjadi 2,25 juta perjalanan.
Jumlah tenaga kerja lokal bertambah 53,34 persen, dari 3.234 menjadi 4.959 orang. Sementara itu, jumlah kamar homestay meningkat hampir 50 persen menjadi 3.074 kamar. Pada Maret 2026, tercatat 6.469 UMKM beroperasi di desa-desa tersebut.
Sejumlah desa wisata Indonesia juga memperoleh pengakuan internasional melalui penghargaan UN Tourism Best Tourism Village, di antaranya Desa Wisata Jatiluwih dan Pemuteran di Bali serta Desa Wisata Wukirsari di DI Yogyakarta.
“Inilah salah satu gambaran paling sederhana tentang pariwisata berdampak. Pariwisata dengan demikian tidak hanya membawa orang menuju desa. Pariwisata dapat membawa peluang ekonomi lebih dekat kepada masyarakat,” ucap Ni Luh.
Dampak ekonomi juga terlihat dari penyelenggaraan berbagai acara. Sepanjang 2025 hingga September 2026, Kementerian Pariwisata mendukung 377 acara di seluruh Indonesia.
Berdasarkan kajian terhadap 354 acara, termasuk Karisma Event Nusantara, kegiatan meetings, incentives, conferences, and exhibitions (MICE), serta acara internasional, tercatat 23,91 juta pengunjung dengan perkiraan perputaran ekonomi mencapai Rp45,9 triliun.
Ni Luh mengatakan acara pariwisata didorong tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai penggerak ekonomi daerah karena dapat mendatangkan pengunjung dan meningkatkan aktivitas pelaku usaha setempat.
Dari sisi daya saing global, Indonesia menempati peringkat kedua sebagai destinasi wisata ramah Muslim terbaik di dunia berdasarkan Global Muslim Travel Index 2026.
Skor Indonesia dalam Travel and Tourism Development Index 2026 juga meningkat menjadi 4,56, menempatkan Indonesia di posisi kedua di Asia Tenggara dan keenam di Asia Pasifik.
Sepanjang 2025 hingga September 2026, pariwisata Indonesia meraih 311 penghargaan internasional. Bali dinobatkan sebagai Best of the Best Destinations in the World 2026 oleh Tripadvisor. Indonesia juga menerima 47 MICHELIN Keys untuk hotel dan resor, meningkat dari 33 penghargaan pada 2025.
Di sisi tata kelola, hingga 23 September 2026, sebanyak 113.692 unit usaha akomodasi jangka pendek telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB). Jumlah tersebut bertambah 44.852 unit atau meningkat 65,2 persen dibandingkan 31 Maret 2025, ketika program penataan usaha dimulai.
Kemenpar juga melakukan peninjauan lapangan dan pembinaan pelaku usaha di tujuh provinsi, menjalin kemitraan dengan sembilan agen perjalanan daring atau online travel agent (OTA), serta menyelenggarakan coaching clinic bagi 1.553 pelaku usaha dan operator.
“Usaha yang semakin tertata berarti persaingan yang lebih adil bagi pelaku industri, perlindungan yang lebih baik bagi wisatawan, sekaligus peluang peningkatan penerimaan daerah,” tutur Ni Luh.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional pada 2025 tercatat sebesar 4,78 persen atau senilai Rp1.138,90 triliun. Untuk Januari–Juni 2026, kontribusinya diperkirakan berada pada rentang 4,02–4,90 persen.
Dari sisi devisa, sektor pariwisata menghasilkan 18,27 miliar dolar AS atau sekitar Rp305,47 triliun sepanjang 2025, meningkat 9,41 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada semester I 2026, devisa pariwisata mencapai 8,43 miliar dolar AS atau sekitar Rp140,95 triliun, tumbuh 2,8 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Kemenpar juga menjalankan berbagai program lintas sektor. Melalui enam politeknik pariwisata, kementerian mendukung pelatihan higiene, keamanan pangan, sanitasi, dan manajemen dapur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta menyiapkan pelatihan hospitality bagi 560 peserta program SMK Go Global.
Di desa wisata, kelompok sadar wisata mulai diintegrasikan dengan Koperasi Desa Merah Putih untuk memperkuat keterhubungan kegiatan pariwisata dengan ekonomi desa.
Sementara, Gerakan Wisata Bersih yang sejalan dengan Gerakan Indonesia ASRI melaksanakan 14 aksi bersih di 10 provinsi sepanjang 2025. Kegiatan tersebut melibatkan 9.134 peserta dan mengumpulkan 21,5 ton sampah.
Pemerintah juga memberikan dukungan melalui potongan harga transportasi pada periode liburan, insentif Pajak Penghasilan Pasal 21 ditanggung pemerintah bagi pekerja pariwisata dengan penghasilan hingga Rp10 juta per bulan yang diperkirakan menjangkau 552.000 penerima manfaat, serta Program Magang Nasional untuk membuka kesempatan belajar bagi generasi muda di industri pariwisata.
Widiyanti mengatakan berbagai capaian tersebut merupakan hasil sinergi untuk memperkuat ekosistem pariwisata, menggerakkan ekonomi lokal, dan memperluas kesempatan masyarakat.
“Mari terus bersama-sama mendukung kemajuan pariwisata Indonesia menuju masa depan yang lebih inklusif dan mendunia,” tutur Widiyanti.










