TVRINews, Jakarta
Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) mencatat sejumlah capaian dalam dua tahun pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto, mulai dari penyederhanaan regulasi, peningkatan prestasi olahraga nasional, hingga penguatan pembangunan karakter generasi muda.
Di bawah kepemimpinan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir, transformasi dilakukan melalui penyederhanaan birokrasi, penguatan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, serta pelibatan sektor swasta. Kemenpora juga mendorong pembinaan olahraga yang lebih terukur dan berorientasi pada prestasi berkelanjutan.
Salah satu langkah utama adalah penyederhanaan 191 Peraturan Menteri Pemuda dan Olahraga (Permenpora) menjadi empat regulasi. Jumlah pasal turut dipangkas sekitar 60 persen, dari 1.500 menjadi sekitar 600 pasal.
Keempat regulasi tersebut mengatur pelayanan kepemudaan, pembudayaan olahraga, pembinaan olahraga prestasi, dan industri olahraga.
Langkah ini ditujukan untuk mengurangi tumpang tindih aturan, mempercepat koordinasi pusat dan daerah, serta membuka peluang partisipasi dunia usaha dalam pengembangan olahraga.
Kemenpora juga mendorong perubahan paradigma, dari olahraga yang semata-mata bergantung pada anggaran pemerintah menjadi sektor yang mampu menghasilkan nilai ekonomi melalui industri olahraga, wisata olahraga, dan penciptaan lapangan kerja.
“Sejalan dengan arahan Bapak Presiden Prabowo, kita ingin birokrasi menjadi penggerak, bukan penghambat. Dari 191 peraturan menjadi empat, ini bukan sekadar memangkas aturan, tetapi mengubah cara pemerintah bekerja,” ujar Erick dalam keterangan tertulis yang diterima oleh tvrinews.com, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia menegaskan pemerintah pusat, pemerintah daerah, federasi olahraga, dan sektor industri perlu bergerak dalam satu ekosistem yang saling mendukung agar olahraga berkembang sebagai kekuatan prestasi sekaligus penggerak ekonomi nasional.
Transformasi tata kelola tersebut berjalan beriringan dengan capaian atlet Indonesia di berbagai ajang internasional.
Pada SEA Games Thailand 2025, Indonesia menempati peringkat kedua dengan raihan 91 medali emas, 111 perak, dan 131 perunggu. Hasil ini menjadi pencapaian penting karena Indonesia kembali menempati posisi kedua saat tidak menjadi tuan rumah, setelah terakhir kali meraihnya pada SEA Games Thailand 1995.
Sejumlah atlet juga mencatatkan rekor dunia dan rekor kompetisi. Lifter Rizki Juniansyah memecahkan dua rekor dunia angkat besi kelas 79 kilogram melalui angkatan clean and jerk seberat 205 kilogram dan total angkatan 365 kilogram. Sementara, atlet lompat galah Diva Renata Jayadi mencatat rekor SEA Games sekaligus rekor nasional dengan lompatan setinggi 4,35 meter.
Capaian berlanjut pada ASEAN Para Games Thailand 2025 yang berlangsung pada Januari 2026. Indonesia menempati peringkat kedua dengan 135 medali emas dari total 393 medali. Atlet Indonesia turut menorehkan rekor baru, di antaranya Taufik Abdul Karim pada nomor lari 100 meter dan 200 meter T11 serta Harsanto Mutiara Cantik pada nomor renang 100 meter gaya dada SB9.
Di cabang sepak bola, Indonesia dipercaya menjadi tuan rumah FIFA ASEAN Cup 2026 untuk pertama kalinya. Turnamen tersebut digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, dan Stadion Si Jalak Harupat, Bandung.
Indonesia kemudian melengkapi keberhasilan sebagai tuan rumah dengan meraih gelar juara setelah mengalahkan Thailand melalui adu penalti pada final di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 5 Oktober 2026.
Prestasi Indonesia berlanjut pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Kontingen Merah Putih melampaui target empat medali emas dengan membawa pulang lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu. Medali emas berasal dari cabang olahraga bulu tangkis, angkat besi, panjat tebing, dan panahan.
Selain raihan medali, atlet Indonesia mencatatkan sembilan rekor dunia, Asia, dan Asian Games. Rahmat Erwin Abdullah membukukan enam catatan rekor melalui dua jenis angkatan. Sementara itu, Desak Made Rita Kusuma Dewi dan Aditya Tri Syahri menyumbangkan tiga rekor dari cabang panjat tebing.
Cabang panahan juga mencatat sejarah melalui Nurisa Dian Ashrifah yang mempersembahkan medali emas pertama Indonesia sepanjang keikutsertaan di Asian Games.
“Prestasi ini menunjukkan bahwa ketika pembinaan dilakukan dengan fokus, target yang terukur, dan kolaborasi yang kuat, atlet kita mampu bersaing dan menciptakan sejarah. Kita tidak ingin keberhasilan hanya datang sesekali,” kata Erick.
Menurutnya, prestasi harus dibangun melalui sistem yang konsisten, mulai dari pembibitan, pembinaan, hingga kompetisi internasional. Capaian tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk meraih hasil lebih tinggi, termasuk pada Olimpiade mendatang.
Di luar sektor olahraga, Kemenpora mempercepat transformasi kebijakan kepemudaan menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. Kemenpora tengah menyiapkan cetak biru kepemudaan nasional serta Desain Besar Karakter Pemuda Indonesia dengan tiga nilai utama, yakni patriotik, gigih, dan empatik.
Ketiga nilai tersebut diarahkan untuk membentuk generasi muda yang memiliki kecintaan dan tanggung jawab terhadap bangsa, tangguh menghadapi perubahan dan persaingan global, serta memiliki kepedulian sosial.
Pembangunan karakter pemuda juga akan diperkuat melalui kerja sama lintas kementerian, pemerintah daerah, organisasi kepemudaan, dan sektor industri. Dengan pendekatan tersebut, pembentukan karakter diharapkan menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan, bukan sekadar program seremonial.
“Menjelang 100 tahun Sumpah Pemuda, tantangan kita bukan hanya bagaimana mengenang sejarah para pemuda yang mempersatukan bangsa, tetapi bagaimana menyiapkan generasi yang mampu menentukan masa depan Indonesia,” ucap Erick.
Ia menekankan pentingnya membentuk pemuda yang patriotik, gigih, dan berempati, serta memiliki kemampuan, keberanian, dan kepedulian untuk mendorong kemajuan bangsa.
Erick menegaskan, seluruh transformasi tersebut merupakan bagian dari komitmen Kemenpora dalam menerjemahkan visi Presiden Prabowo untuk membangun sumber daya manusia unggul, memperkuat daya saing bangsa, serta menjadikan olahraga dan kepemudaan sebagai investasi jangka panjang.
“Dua tahun ini adalah bagian dari perjalanan transformasi. Kita sudah melihat hasilnya, tetapi pekerjaan kita belum selesai. Ukuran keberhasilan bukan hanya berapa medali yang kita menangkan hari ini, melainkan seberapa kuat sistem yang kita bangun agar Indonesia terus melahirkan juara dan generasi muda yang mampu membawa bangsa ini maju,”vtutur Erick.










