TVRINews, Banda Aceh
Kementerian Kesehatan mengungkap Indonesia masih menghadapi tantangan serius dalam program imunisasi nasional. Berdasarkan data WHO dan UNICEF 2024, Indonesia menempati peringkat keenam dunia dengan jumlah anak zero dose tertinggi.
Administrator Kesehatan Ahli Madya Direktorat Imunisasi Kementerian Kesehatan, Edy Hariyanto, mengatakan saat ini terdapat sekitar 2,3 juta anak Indonesia yang belum pernah mendapatkan imunisasi rutin sama sekali.
“Indonesia berada di urutan keenam dunia dengan angka zero dose tertinggi,”kata Edy dalam Kunjungan Lapangan Tematik (KUNLAPTIK) dan Media briefing Mengejar Anak Zero Dose Provinsi Aceh di Kota Banda Aceh, Kamis, 21 Mei 2026.
Secara operasional, zero dose diartikan sebagai anak yang belum mendapatkan imunisasi DPT dosis pertama atau Difteri, Pertusis, dan Tetanus dosis pertama.
Data Direktorat Imunisasi Kemenkes menunjukkan jumlah anak zero dose mencapai 372.965 anak pada 2023. Angka tersebut melonjak menjadi 973.378 anak pada 2024 dan masih tinggi pada 2025 dengan 959.990 anak.
Aceh menjadi salah satu provinsi dengan kontribusi angka zero dose cukup besar. Pada 2025, jumlah anak zero dose di Aceh tercatat mencapai 61.440 anak, meningkat dibanding 58.143 anak pada 2024 dan 52.664 anak pada 2023.
Selain itu, capaian imunisasi bayi lengkap di Aceh pada 2025 hanya mencapai 33,7 persen dan menjadi salah satu yang terendah secara nasional. Sementara secara nasional, cakupan imunisasi bayi lengkap baru mencapai 80,2 persen dari target 90 persen.
Berdasarkan Dashboard ASIK per 15 Mei 2026, capaian imunisasi bayi lengkap nasional baru mencapai 17,6 persen. Adapun Aceh masih berada di angka sekitar 5,3 persen.
“Kalau kita lihat, capaian imunisasi bayi lengkap maupun baduta lengkap saat ini memang masih jauh dari target,”jelasnya.
Kemenkes menilai rendahnya cakupan imunisasi berisiko memicu kejadian luar biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), seperti polio, campak, rubella, difteri, dan hepatitis.
Edy mengatakan Indonesia sebenarnya telah dinyatakan bebas polio pada 2014. Namun dalam beberapa tahun terakhir kembali ditemukan kasus polio, termasuk di Aceh.
“Kalau cakupan imunisasi rendah dan tidak merata, potensi KLB dan penularan penyakit akan meningkat,”tambahnya.
Menurut Edy, imunisasi bukan hanya melindungi anak yang menerima vaksin, tetapi juga membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity apabila cakupannya tinggi dan merata.
Ia menjelaskan akumulasi anak yang tidak mendapat imunisasi lengkap akan membuat kekebalan kelompok tidak terbentuk sehingga penularan penyakit menjadi lebih cepat.
Selain tantangan cakupan, Kemenkes juga menyoroti tingginya keraguan masyarakat terhadap imunisasi akibat hoaks dan informasi keliru di media sosial.
“Banyak masyarakat akhirnya menolak imunisasi karena informasi yang diterima hanya hoaks, sementara edukasi yang benar tidak sampai,”ucapnya.
Untuk menekan angka zero dose, pemerintah menjalankan berbagai strategi, mulai dari penguatan kapasitas tenaga kesehatan, pelacakan sasaran imunisasi, penguatan surveilans penyakit, hingga pelaksanaan imunisasi kejar.
Imunisasi kejar dilakukan untuk melengkapi vaksin anak yang belum sesuai jadwal berdasarkan usianya.
“Yang dikejar adalah melengkapi status imunisasi anak sesuai usianya,”pungkasnya.
Kemenkes juga mendorong keterlibatan tokoh agama, tokoh masyarakat, kader posyandu, dan media dalam mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya imunisasi lengkap bagi anak.










