TVRINews, Jakarta
Dari angka awal 179 ribu jiwa, kini jumlah pengungsi di Flores tersisa 72 ribu orang saja
Jumlah warga yang masih mengungsi akibat gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus menurun seiring berkurangnya aktivitas gempa dan mulai pulihnya kondisi masyarakat.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan, jumlah pengungsi saat ini tercatat sebanyak 72.864 jiwa. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan saat Presiden Prabowo Subianto meninjau wilayah terdampak bencana, ketika jumlah pengungsi mencapai 179.037 jiwa.
"Jumlah pengungsi ini menurun karena masyarakat yang rumahnya rusak ringan dan rusak sedang ini mulai dikembalikan ke rumahnya masing-masing," kata Suharyanto saat menyampaikan laporan ke Presiden RI Prabowo Subianto dalam rapat terbatas, Senin, 7 September 2026.
Menurut Suharyanto, kondisi gempa di Flores juga mulai menunjukkan penurunan. Sejak gempa pertama terjadi pada 15 Agustus 2026 hingga hari ke-24, tercatat sebanyak 13.156 kali gempa.
Pada minggu keempat, tercatat 364 kejadian gempa. Namun, gempa tersebut dinilai tidak signifikan dirasakan oleh masyarakat.
Meski aktivitas gempa mulai menurun, Suharyanto menyebut kondisi tersebut belum sepenuhnya kembali normal. Aktivitas gempa diperkirakan masih membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk berhenti dan kembali seperti kondisi semula.
Sementara itu, warga yang masih mengungsi saat ini merupakan masyarakat yang rumahnya mengalami kerusakan berat. Pemerintah secara bertahap membangun hunian sementara maupun memberikan dana tunggu hunian bagi mereka.
"Yang masih mengungsi ini adalah masyarakat yang rumahnya rusak berat dan sekarang secara bertahap sedang kami bangunkan hunian sementara ataupun diberikan dana tunggu hunian," jelasnya.
BNPB juga terus melakukan verifikasi terhadap rumah warga yang mengalami kerusakan. Dari 102.384 unit rumah yang masuk dalam data kerusakan di tujuh kabupaten/kota, sebanyak 46.117 unit telah diverifikasi.
Untuk rumah rusak ringan, pemerintah memberikan bantuan sebesar Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang mendapat bantuan Rp30 juta. Sementara rumah yang mengalami kerusakan berat akan dibangun kembali oleh pemerintah melalui Kementerian Perumahan maupun BNPB.
Di sisi lain, kondisi layanan dasar di wilayah terdampak juga mulai pulih. Listrik, komunikasi, BBM, air bersih, serta jalur transportasi secara umum telah kembali fungsional.
Pelayanan kesehatan juga dinyatakan kembali normal. Rumah sakit dan puskesmas telah kembali memberikan pelayanan, sementara rumah sakit lapangan masih beroperasi untuk mendukung kebutuhan masyarakat.
Kegiatan belajar mengajar pun telah berjalan melalui sekolah-sekolah darurat. Selain itu, pemerintah masih memberikan layanan psikososial dan trauma healing bagi warga yang mengalami trauma akibat bencana.
BNPB menilai penanganan tanggap darurat gempa Flores hingga hari ke-24 berjalan lancar. Aktivitas masyarakat juga mulai kembali normal, ditandai dengan kembali beroperasinya pasar tradisional serta berlangsungnya kegiatan keagamaan dan sosial.
Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi NTT disebut telah mulai berkoordinasi dengan BNPB terkait kemungkinan mengakhiri masa tanggap darurat dan memasuki tahap rehabilitasi serta rekonstruksi.










