TVRINews – Jakarta
Jakarta Siap Perkuat Pertahanan Maritim dan Mitigasi Bencana Lewat Hibah Kapal Induk Italia.
Pemerintah Indonesia memastikan armada maritim nasional akan segera menerima tambahan kekuatan strategis menyusul kehadiran kapal perang induk Giuseppe Garibaldi yang dihibahkan oleh pemerintah Italia.
Modernisasi ini tidak hanya dirancang untuk memperkuat pertahanan pertahanan laut, tetapi juga diintegrasikan langsung kedalam skema penanganan darurat nasional.
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa kapal tersebut dijadwalkan tiba di tanah air dalam waktu dekat sebelum resmi bergabung dengan jajaran alat utama sistem senjata Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (Alutsista TNI AL).
Kehadiran kapal ini menandai babak baru dalam strategi pertahanan komprehensif yang memadukan kesiapsiagaan militer dengan fungsi kemanusiaan.
Dalam sebuah rapat terbatas yang berlangsung pada Senin 7 September 2026, Kepala Negara menjelaskan bahwa pemerintah akan menjalankan program restorasi menyeluruh (refurbish) terhadap kapal hibah tersebut. Transformasi ini difokuskan untuk mengubah peruntukannya menjadi kapal induk khusus helikopter serta pangkalan operasional pesawat nirawak (drone).

(Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam Ratas Perkembangan Penanganan Bencana Alam, Senin, 7 September 2026. [Foto: Youtube Setpres])
"Alhamdulillah sebentar lagi kapal induk dari Italia akan masuk ke jajaran AL kita. Itu kita akan refurbish kita ubah untuk menjadi kapal induk helikopter dan untuk drone," ujar Presiden Prabowo.
Berdasarkan kalkulasi strategis pertahanan, Giuseppe Garibaldi memiliki kapasitas muat yang memadai untuk menampung hingga sepuluh unit helikopter kelas menengah. Armada udara tersebut mencakup jenis helikopter angkut taktis seperti Black Hawk dan Mil Mi-17, yang masing-masing memiliki kapasitas angkut air signifikan untuk mendukung operasi penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Kapasitas operasional udara ini dinilai krusial dalam mempercepat waktu tanggap darurat di berbagai titik rawan bencana. Fleksibilitas pergerakan dari laut lepas menuju daratan diharapkan mampu memangkas rantai birokrasi logistik penanganan darurat secara masif.
"Jadi kalau kita punya sepuluh helikopter bisa segera merapat ke titik api yang terbanyak. Ini juga akan sangat membantu respons kita," tambahnya.
Selain penguatan armada laut, pemerintah juga mengarahkan fokus pada optimalisasi teknologi mitigasi iklim. Presiden menginstruksikan peningkatan jumlah armada udara yang dilibatkan dalam operasi modifikasi cuaca guna mengantisipasi ancaman bencana hidrometeorologi secara proaktif.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut dilibatkan secara aktif untuk mengkaji formulasi zat kimia paling efisien guna memaksimalkan tingkat keberhasilan operasi modifikasi cuaca di berbagai wilayah strategis. Pengadaan teknologi nirawak berkapasitas angkut muatan besar juga menjadi prioritas pengadaan jangka pendek.
"Selanjutnya kita harus mengadakan drone yang bisa melempar air, ada drone yang cukup besar sampai bisa mengangkut, melempar 50 kilogram air," jelas Presiden.
Melalui langkah-langkah preventif yang terukur ini, pemerintah menegaskan komitmennya untuk menggeser paradigma penanganan bencana dari pola reaktif menuju kesiapsiagaan dini.
Kebijakan modernisasi alutsista yang beririsan langsung dengan mitigasi krisis lingkungan ini diharapkan mampu memberikan perlindungan optimal bagi keselamatan masyarakat secara berkelanjutan.










