TVRINews – Jakarta
Presiden Prabowo Subianto mengumumkan lonjakan produksi pangan nasional yang melampaui kapasitas gudang Bulog dalam Sidang Paripurna DPR.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan apresiasi yang tinggi terhadap jajaran tim pertanian pemerintah setelah Indonesia berhasil mempercepat target swasembada pangan, khususnya komoditas beras, menjadi hanya dalam kurun waktu satu tahun.
Capaian ini melesat jauh dari proyeksi awal pemerintah yang menargetkan pemenuhan mandiri tersebut dalam waktu empat tahun.
Berbicara dalam Sidang Paripurna DPR di Gedung MPR/DPR, Senayan, Jakarta, pada Rabu 20 Mei 2026, Presiden menegaskan bahwa ketahanan pangan tetap menjadi pilar utama dalam agenda pemerintahannya.

(Presiden Prabowo Subianto di Rapat Paripurna ke-19 DPR RI Rabu 20 Mei 2026 (Foto: Youtube Setpres))
"Saya canangkan program utama saya adalah mengamankan pangan Indonesia. Kita harus swasembada pangan. Dan alhamdulillah, saya dibantu oleh tim pertanian saya yang luar biasa, saya beri target 4 tahun, mereka hasilkan swasembada dalam 1 tahun," ujar Presiden Prabowo di hadapan para anggota dewan.
Rekor Produksi dan Tantangan Logistik
Percepatan ini membawa sektor agraris Indonesia ke level baru. Kepala Negara mengungkapkan bahwa volume produksi pangan nasional saat ini telah menyentuh angka tertinggi dalam sejarah berdirinya Republik Indonesia.
Begitu masifnya hasil panen periode ini membuat fasilitas penyimpanan domestik milik Perum Bulog tidak lagi mampu menampung seluruh pasokan.
"Produksi kita tertinggi selama sejarah Republik Indonesia. Cadangan yang ada di gudang-gudang pemerintah (Bulog), gudangnya tidak cukup, kita harus sewa gudang yang lain," jelasnya.
Berdasarkan data yang dipaparkan, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) mencatatkan lonjakan signifikan dalam beberapa bulan terakhir.
Jika pada akhir Desember 2025 stok beras nasional berada di angka 3,25 juta ton, maka per 10 Mei 2026 jumlah tersebut melonjak tajam hingga menembus angka 5,3 juta ton.
Intervensi Harga Pupuk Jadi Kunci
Dalam pidatonya, Presiden mengidentifikasi bahwa salah satu faktor krusial di balik keberhasilan panen raya ini adalah stabilitas dan ketersediaan pasokan pupuk bagi para petani.
Strategis pemerintah dalam mengamankan produksi hulu diklaim berhasil menekan biaya produksi di tingkat pencetak sawah.
Untuk pertama kalinya, pemerintah mampu menerapkan kebijakan penurunan harga pupuk hingga sebesar 20 persen. Langkah intervensi ini memastikan para petani domestik mendapatkan akses pupuk yang merata dan dalam volume yang ideal.
"Kita juga sudah amankan produksi pupuk kita, untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, harga pupuk kita turunkan 20%. Petani-petani kita sekarang bisa nikmati pupuk dengan jumlah yang cukup," tambah Prabowo.
Meskipun mencatatkan performa impresif, Presiden mengingatkan jalannya ketahanan pangan ke depan masih menghadapi tantangan distribusi.
Beliau menekankan pentingnya pengawasan ketat di lapangan guna memastikan komoditas krusial, seperti pupuk bersubsidi, tidak jatuh ke tangan yang salah.
"Yang sekarang harus kita jaga adalah jangan sampai pupuk subsidi diselewengkan atau diselundupkan ke tempat lain. Ini harus kita jaga bersama," tegas Presiden menutup arahannya.










