TVRINews, Bandung
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) memperkuat keterlibatan perguruan tinggi dalam penanganan persoalan sampah di kawasan Bandung Raya. Salah satunya melalui KKN Tematik “Sampah Tuntas” yang mendorong masyarakat memilah dan mengelola sampah sejak dari rumah.
Langkah tersebut dilakukan karena persoalan sampah di Bandung Raya masih menjadi tantangan. Timbulan sampah di kawasan tersebut mencapai lebih dari 4.489 ton per hari dan diproyeksikan mendekati 5.000 ton per hari.
Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen atau 3.500 ton per hari masih menjadi ruang penguatan pengelolaan. Kondisi ini menunjukkan perlunya upaya pengurangan sampah sejak dari sumber, sebelum sampah masuk ke tempat penampungan maupun tempat pemrosesan akhir.
Di tingkat Jawa Barat, timbulan sampah tercatat mencapai 17.398,54 ton per hari berdasarkan Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) 2024. Bandung Raya juga telah ditetapkan sebagai kawasan darurat sampah melalui Keputusan Gubernur Jawa Barat Nomor 658/Kep.579-DLH/2023.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto mengatakan persoalan tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk pemanfaatan hasil riset dan inovasi perguruan tinggi.
“Tim kajian untuk pengelolaan sampah menemukan terobosan baru yang sangat menjanjikan. Kita ingin coba pertama di Bandung. Dari situ, kita akan bisa menghitung dan menganalisis teknologi yang paling sesuai,” ujar Brian dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Sabtu, 3 Oktober 2026.
Kemdiktisaintek kemudian mendorong implementasi kontribusi akademisi melalui program Gotong Royong Akademisi Bersinergi dan Berinovasi (GRADASI) Kawasan Bandung Raya dan Kabupaten Sumedang. Salah satu bentuk kegiatannya adalah KKN Tematik “Sampah Tuntas” dengan tema “Aksi Pilah Sampah dari Rumah”.
Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah IV Lukman mengatakan program tersebut tidak menempatkan mahasiswa sebagai petugas kebersihan, melainkan sebagai pendamping perubahan perilaku masyarakat.
“Mahasiswa bukan membantu petugas sampah. Konsepnya mengubah budaya dan perilaku masyarakat terhadap sampah. Edukasi dilakukan sejak dari rumah tangga agar sampah dapat dikurangi dan dikelola sebelum keluar dari rumah sekaligus melakukan rekayasa sosial secara partisipatif bersama masyarakat,” kata Lukman.
Dalam program ini, mahasiswa menjalankan lima komponen kegiatan, yaitu edukasi, pilah, pilih, pengelolaan, dan zero to TPA. Pendampingan juga diarahkan untuk memperkuat bank sampah dan pengolahan sampah organik di wilayah sasaran.
Pada 2026, KKN Tematik “Sampah Tuntas” ditargetkan melibatkan 90 perguruan tinggi swasta, 25.529 mahasiswa, dan 56 kecamatan yang tersebar di lima kabupaten/kota.
Rinciannya, Kota Bandung melibatkan 69 PTS dengan 15.166 mahasiswa, Kabupaten Bandung enam PTS dengan 5.371 mahasiswa, Kota Cimahi tujuh PTS dengan 3.300 mahasiswa, Kabupaten Sumedang lima PTS dengan 1.402 mahasiswa, dan Kabupaten Bandung Barat tiga PTS dengan 292 mahasiswa.
Kegiatan berlangsung selama 12 minggu atau setara 10 SKS dengan beban 450 jam. Mahasiswa akan melalui sejumlah tahapan, mulai dari pembekalan, pemetaan kondisi sampah, survei pengetahuan, sikap, dan praktik masyarakat, audit sampah, penyusunan rencana aksi 90 hari, pendampingan, hingga evaluasi dan penguatan keberlanjutan.
Program tersebut juga dilengkapi Modul GRADASI Episode 1 “Sampah Tuntas” serta aplikasi untuk mendukung pendataan, pelaksanaan, pelaporan, dan monitoring.
KKN Tematik serupa telah dilaksanakan di sejumlah wilayah. Pada 2024, program di Kota Bandung melibatkan 57 perguruan tinggi, 1.114 mahasiswa, dan 90 kelurahan. Sementara pada 2025 di Kota Cimahi, kegiatan melibatkan tujuh perguruan tinggi, 1.600 mahasiswa, dan 15 kelurahan.
Pada 2026, cakupan program diperluas ke Karawang, Tasikmalaya, dan Sukabumi dengan melibatkan 26 perguruan tinggi dan lebih dari 2.000 mahasiswa.
Kemdiktisaintek menargetkan program tersebut dapat mendampingi sekitar 2.500 RW. Setiap kelurahan atau desa dampingan ditargetkan memiliki sedikitnya satu bank sampah aktif, sementara setiap RW ditargetkan memiliki satu unit pengomposan aktif dan sedikitnya dua kader terlatih.
Program juga menargetkan penurunan sampah residu yang masuk ke TPS maupun TPA sebesar 15–20 persen dari kondisi awal.
Melalui KKN Tematik “Sampah Tuntas”, kolaborasi antara akademisi, pemerintah daerah, mahasiswa, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat pengelolaan sampah dari sumber sekaligus mendorong terwujudnya Diktisaintek Berdampak: Mahasiswa Bergerak, Lingkungan Berdampak.










