TVRINews – Jakarta
Pemerintah dinilai perlu memperkuat arsitektur pembiayaan mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar global guna menopang pertumbuhan jangka panjang.
Rencana tata kelola fiskal yang tertuang dalam Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027 menandai pergeseran strategis Indonesia menuju penguatan kapasitas negara.
Hal ni dinilai krusial untuk mengamankan target pertumbuhan ekonomi tinggi di tengah ketidakpastian global.
Ekonom Utama Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, menyatakan bahwa fase baru pembangunan di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menuntut perluasan ruang fiskal secara fundamental.
Menurutnya, akselerasi pertumbuhan tidak lagi bisa bertumpu pada stimulus jangka pendek seperti konsumsi domestik atau fluktuasi harga komoditas.
"Untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi secara berkelanjutan, kapasitas negara harus ikut membesar," ujar Fakhrul dalam keterangannya di Jakarta, Rabu 20 Mei 2026.
Fakhrul menggarisbawahi bahwa kapasitas yang dimaksud mencakup kemampuan pemerintah dalam mengamankan struktur pembiayaan jangka panjang, menjaga stabilitas eksternal, dan mempertahankan kepercayaan pasar. Sektor-sektor strategis seperti industrialisasi dan penguatan kelas menengah membutuhkan fondasi pendanaan yang jauh lebih kokoh dari kondisi saat ini.
Reformasi Pajak Tanpa Beban Baru
Saat ini, rasio pendapatan pemerintah terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia masih tertahan di kisaran 11 persen.
Angka tersebut mengindikasikan adanya ruang ekspansi yang signifikan jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang (emerging markets) sepadan.
Kendati demikian, penguatan instrumen fiskal disarankan tidak menempuh jalur agresif yang dapat mendistorsi iklim usaha.
"Fokus utamanya justru harus pada peningkatan kepatuhan pajak, perluasan basis ekonomi formal, digitalisasi administrasi, dan yang paling penting adalah menjaga kepercayaan terhadap arah kebijakan pemerintah," kata Fakhrul menambahkan.
Pendekatan kebijakan yang konsisten dan dapat diprediksi (predictable) dinilai menjadi kunci utama untuk meminimalisasi biaya penyerapan dana makro (cost of fund).
Di era modern, sentimen positif investor bertindak sebagai jangkar yang menekan premi risiko pasar keuangan domestik.
Anomali Neraca Pembayaran
Para analis turut menyoroti tantangan struktural pada Neraca Pembayaran (Balance of Payments).
Indonesia kerap mencatat surplus perdagangan yang masif, namun di saat bersamaan masih mengalami arus modal keluar (net outflow) pada neraca finansial. Ketimpangan ini membuat pasar keuangan domestik kerap rentan terhadap siklus penguatan mata uang dolar AS.
Guna memitigasi kerentanan eksternal tersebut, terdapat tiga pilar strategi yang dinilai perlu segera diakselerasi:
• Penyediaan Instrumen Lindung Nilai : Memperdalam pasar derivatif domestik guna memfasilitasi mitigasi risiko (hedging) bagi pelaku usaha global maupun lokal.
• Diversifikasi Mata Uang: Mendorong internasionalisasi rupiah secara terukur melalui perluasan penyelesaian transaksi menggunakan mata uang lokal (local currency settlement) di tingkat regional.
• Akses Likuiditas Multipolar : Memperluas sumber pendanaan non-dolar, salah satunya melalui penerbitan obligasi berbasis mata uang Renminbi (RMB) baik oleh korporasi negara maupun swasta.
Membangun Likuiditas Domestik
Selain restrukturisasi portofolio global, pembentukan ekosistem investasi berbasis rupiah jangka panjang (long-IDR environment) menjadi agenda yang tidak kalah mendesak.
Keterlibatan lembaga keuangan non-bank seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer investasi, hingga lembaga pengelola dana abadi (sovereign wealth funds) harus dioptimalkan untuk mendanai proyek hilirisasi yang membutuhkan modal berdurasi panjang.
Pada akhirnya, keberhasilan transformasi ekonomi Indonesia tidak hanya diukur dari angka pertumbuhan yang dirilis, melainkan dari seberapa kokoh fondasi pembiayaan yang menopangnya.
Kapasitas negara secara holistik akan ditentukan oleh kredibilitas kebijakan di mata pasar serta stabilitas akses pendanaan jangka panjang.










