TVRINews, Pontianak
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) terus melakukan upaya pemerataan layanan kesehatan terus diperkuat pemerintah, terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Di mana, salah satu fokus utama adalah mengatasi kekurangan dokter spesialis yang masih menjadi kendala di berbagai daerah.
Di Kalimantan Barat, kebutuhan tenaga medis spesialis masih jauh dari ideal. Data per Maret 2026 menunjukkan, pemenuhan dokter spesialis anestesi baru mencapai sekitar 36 persen. Dari kebutuhan 115 dokter, saat ini hanya tersedia 42 tenaga spesialis yang harus melayani puluhan rumah sakit di wilayah luas, termasuk daerah perbatasan dan pedalaman.
Dikesempatan tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Fauzan mengatakan pihaknya mempercepat pembukaan program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di daerah. Langkah ini diwujudkan melalui peluncuran Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif serta Magister Ilmu Farmasi di Fakultas Kedokteran Universitas Tanjungpura.
Tak hanya itu, ia mengatakan jika pembukaan program tersebut sebagai langkah strategis untuk memperkuat layanan kesehatan daerah sekaligus mempercepat pemerataan tenaga medis.
“Ini bukan sekadar membuka program studi, tetapi bagian dari upaya besar mempercepat pemenuhan tenaga medis spesialis di Indonesia,” ujarnya kutip Rabu, 20 Mei 2026.
Menurutnya, persoalan kesehatan nasional tidak hanya terletak pada jumlah dokter, tetapi juga ketimpangan distribusi. Karena itu, pemerintah mendorong lahirnya lebih banyak tenaga medis dari daerah agar dapat kembali mengabdi di wilayahnya masing-masing.
Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pembukaan ratusan program studi spesialis dan subspesialis di berbagai perguruan tinggi, sekaligus memperluas akses beasiswa pendidikan kedokteran.
Hingga saat ini, pemerintah telah membuka 160 program studi baru di bidang spesialis dan subspesialis. Langkah tersebut diharapkan mampu mempercepat pemerataan layanan kesehatan, terutama di daerah yang selama ini masih kekurangan tenaga medis.
Pemerintah daerah Kalimantan Barat pun menyambut positif kebijakan ini. Sekretaris Daerah Kalbar menilai, pengembangan pendidikan dokter spesialis di daerah merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat ketahanan sektor kesehatan.
“Kami membutuhkan lebih banyak dokter spesialis yang lahir dan mengabdi di daerah sendiri,” ujarnya.
Selain itu, penguatan pendidikan juga diarahkan pada pengembangan riset, termasuk pemanfaatan potensi lokal di bidang farmasi. Dengan demikian, kehadiran program studi baru tidak hanya menjawab kebutuhan tenaga medis, tetapi juga mendorong inovasi berbasis sumber daya daerah.
Di sisi lain, Kemdiktisaintek menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar program ini berjalan efektif. Sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, rumah sakit, dan dunia industri dinilai menjadi kunci dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.










