TVRINews, Pontianak
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek), Fauzan mengatakan jika sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak bisa hanya bertumpu pada pendidikan formal semata, tetapi juga harus berpijak pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
Lebih lanjut, ia mengatakan jika saat ini Indonesia tengah berada pada momentum penting dengan hadirnya bonus demografi menuju 2045.
Namun, lanjutnya peluang tersebut juga dibayangi berbagai tantangan, mulai dari masih rendahnya partisipasi pendidikan tinggi hingga belum optimalnya keterhubungan lulusan dengan dunia kerja.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 mencatat Angka Partisipasi Kasar (APK) perguruan tinggi nasional berada di angka 32,89 persen, masih tertinggal dari rata-rata global. Sementara itu, Kalimantan Barat termasuk daerah dengan tingkat partisipasi yang relatif rendah, yakni 24,99 persen.
Fauzan menilai kondisi ini menjadi sinyal bahwa pembangunan manusia perlu diarahkan tidak hanya pada akses, tetapi juga kualitas dan relevansi pendidikan.
Ia menegaskan, perguruan tinggi harus hadir di tengah masyarakat sebagai motor solusi, bukan sekadar pusat akademik.
“Pendidikan tinggi harus mampu menjawab persoalan nyata masyarakat, bukan hanya menghasilkan lulusan tanpa arah yang jelas,” ujarnya kutip Rabu, 20 Mei 2026.
Sebagai langkah konkret, ia megatakan jika pemerintah mendorong pembentukan konsorsium perguruan tinggi untuk mempercepat pembangunan daerah.
Di mana, skema ini sebelumnya telah diterapkan di Nusa Tenggara Timur melalui kolaborasi puluhan kampus dalam menangani persoalan seperti stunting dan kemiskinan.
Model serupa kini tengah disiapkan di Kalimantan Barat dengan melibatkan berbagai perguruan tinggi, termasuk Universitas Tanjungpura.
Tak hanya itu, Fauzan juga menggarisbawahi pentingnya sinergi tiga pusat pendidikan, yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Menurutnya, ketiganya harus berjalan beriringan untuk membentuk generasi yang utuh.
“Kalau pendidikan hanya berhenti di ruang kelas, maka kita kehilangan makna pembentukan manusia seutuhnya,” tegasnya.
Dalam konteks lokal, ia mengangkat nilai-nilai budaya Dayak sebagai fondasi penting pembangunan SDM. Filosofi Huma Betang, Jaga Alam, dan Belom Bahadat dinilai relevan dalam membentuk karakter generasi yang adaptif namun tetap berakar.
“Globalisasi tidak boleh menghapus jati diri. Justru budaya adalah kekuatan kita untuk bertahan dan berkembang,” katanya.
Ia pun berharap forum ini menjadi ruang lahirnya kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pembangunan manusia Indonesia yang berkelanjutan.
“Indonesia maju hanya bisa dicapai jika manusianya berilmu, berkarakter, dan berakar pada nilai budaya,” pungkas Fauzan.










