TVRINews, Jakarta
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), menyusul peningkatan signifikan titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence), khususnya di Kalimantan Tengah.
Hal ini diterima TVRINews melalui rilis Kementerian Kehutanan, Minggu, 20 September 2026. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Sabtu, 19 September 2026 pukul 23.59 WIB, terdeteksi 1.323 hotspot high confidence secara nasional. Jumlah tersebut meningkat 777 titik dibandingkan 546 titik pada Jumat, 18 September 2026.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan peningkatan paling signifikan, yakni mencapai 1.035 titik dari sebelumnya 166 titik. Sementara itu, Sumatera Selatan tercatat 112 titik, Kalimantan Barat 107 titik, Kalimantan Selatan 55 titik, dan Jambi 14 titik. Adapun Riau tidak mencatat hotspot high confidence pada pemantauan terakhir, turun dari empat titik.
Peningkatan di Kalimantan Tengah membuat wilayah tersebut menjadi fokus utama penguatan operasi. Kewaspadaan juga ditingkatkan di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan.
Kementerian Kehutanan menegaskan, hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar.
Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, relawan, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan.
Sebanyak 55 unit armada udara dikerahkan untuk mendukung pengendalian karhutla di wilayah Sumatera dan Kalimantan. Armada tersebut mencakup helikopter patroli, pesawat CASA untuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), serta helikopter water bombing.
Pengerahan armada disesuaikan dengan lokasi kebakaran, perkembangan hotspot, potensi awan, kondisi asap, jarak pandang, dan aspek keselamatan penerbangan.
Pada kondisi gambut, operasi tidak berhenti ketika api di permukaan telah padam.
Pembasahan dan pendinginan tetap dilakukan karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala ketika kondisi mengering atau angin menguat.
Sementara itu, berdasarkan pemantauan PM2,5, kondisi udara di Indonesia masih bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah area di Sumatera dan Kalimantan menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, beberapa lokasi berada pada kategori berbahaya.
Kabut asap masih memengaruhi aktivitas di sejumlah wilayah Kalimantan. Pada Sabtu (19/9), jarak pandang di Palangka Raya sempat turun hingga sekitar 350 meter pada pagi hari dan berdampak pada aktivitas penerbangan. Kondisi kemudian berangsur membaik, meski pengaruh asap masih terpantau.
Di Pontianak, jarak pandang pada periode pengamatan juga sempat berada di bawah satu kilometer akibat asap. Kondisi jarak pandang sangat dinamis dan dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan kebakaran.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak asap untuk terus mengikuti informasi kondisi udara serta arahan pemerintah daerah. Apabila kondisi udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar.
Pengguna jalan juga diminta meningkatkan kewaspadaan ketika jarak pandang menurun dengan mengurangi kecepatan, menyalakan lampu kendaraan, serta menjaga jarak aman.
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat yang menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang terdampak diminta segera melaporkannya kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin.










