TVRINews, Tangerang Selatan
Lahan bekas tambang dinilai dapat dimanfaatkan kembali menjadi kawasan produktif melalui pendekatan circular bioeconomy. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan konsep pemanfaatan lahan pascatambang menjadi kawasan peternakan terpadu yang menggabungkan aspek pemulihan ekosistem dengan pengembangan sumber pangan dan ekonomi masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Peternakan BRIN, Sindu Akhadiarto, dalam kegiatan BRIN Goes To Industry 7 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang Selatan.
Sindu menjelaskan, peternakan dalam konsep tersebut tidak hanya berorientasi pada produksi daging, telur, dan susu, tetapi juga menjadi bagian dari sistem biologis untuk membantu memulihkan fungsi ekosistem di lahan bekas tambang.
“Peternakan tidak hanya menghasilkan daging, telur, dan susu, tetapi juga menjadi mesin biologis yang mempercepat pemulihan fungsi ekosistem dan bekas tambang,” ujar Sindu dalam keterangan tertulis, Minggu, 20 September 2026.
Konsep peternakan terpadu BRIN mengintegrasikan sejumlah sektor, mulai dari peternakan, perikanan, hortikultura, tanaman pangan hingga perkebunan. Konsep ini dikembangkan menyerupai Agro Techno Park, dengan menghubungkan kegiatan produksi dari hulu hingga hilir melalui dukungan teknologi dan inovasi.
Selain menjadi sentra produksi, kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai lokasi riset, edukasi, hingga agrowisata. Dengan pendekatan itu, lahan pascatambang berpotensi dikembangkan menjadi kawasan smart agro yang memiliki manfaat ekologis dan ekonomi.
Void Bekas Tambang Dikembangkan untuk Perikanan
Potensi pengembangan lahan pascatambang dinilai cukup besar, terutama di Kalimantan Timur. Sindu menyebut kawasan pertambangan batu bara di provinsi tersebut mencapai lebih dari 1,5 juta hektare atau sekitar 40 persen dari total luas pertambangan batu bara nasional.
Salah satu pendekatan yang dikaji adalah pemanfaatan void, yakni lubang bekas tambang yang telah terisi air. Dalam konsep peternakan terpadu, void dapat dimanfaatkan untuk kegiatan perikanan, sedangkan lahan di sekitarnya dikembangkan untuk hortikultura dan tanaman pangan.
Menurut Sindu, pengalaman pengembangan perikanan di danau bekas tambang menunjukkan hasil yang menjanjikan. Setelah melalui pemeliharaan selama hampir lima tahun, void dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas seperti udang galah dan ikan nila yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Sementara itu, pengembangan tanaman juga disesuaikan dengan karakteristik tanah pascatambang. Di kawasan Green Belt PT Semen Indonesia Pabrik Tuban, Jawa Timur, misalnya, telah dikembangkan sejumlah tanaman hortikultura seperti jeruk, anggur, dan kelengkeng.
Untuk tanaman pangan, BRIN juga memiliki sejumlah varietas unggul yang dapat dikembangkan pada kondisi lahan tertentu, termasuk varietas unggul baru padi yang mampu beradaptasi di lahan masam.
BRIN Kolaborasi dengan Industri
Pengembangan model pemanfaatan lahan pascatambang tersebut mulai diperkuat melalui kerja sama BRIN dengan dunia industri. Pada 2026, BRIN bekerja sama dengan PT Bramasta Sakti dalam kegiatan reklamasi lahan bekas tambang melalui pendekatan revegetasi dan fitoremediasi untuk mendukung pengembangan peternakan ruminansia di Kalimantan Timur.
Direktur PT Bramasta Sakti, Wiwin Suhartanto, mengatakan kerja sama tersebut telah memiliki payung kelembagaan melalui nota kesepahaman dengan Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) BRIN.
Kerja sama itu kemudian ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama dengan Pusat Riset Peternakan. Kolaborasi tersebut juga berpotensi diperluas dengan melibatkan pusat riset lain, termasuk Pusat Riset Perikanan.
“Potensi lahan yang ada di kami dan kemampuan riset dari BRIN ini dapat kita kolaborasikan sehingga nantinya bisa muncul inovasi-inovasi baru,” kata Wiwin.
Menurut Wiwin, kerja sama tersebut telah ditindaklanjuti melalui kunjungan tim BRIN ke lokasi perusahaan pada Agustus 2026. Dalam kunjungan itu, tim melihat kondisi lahan secara langsung sekaligus mengidentifikasi potensi yang dapat dikembangkan untuk kegiatan riset.
Dua void yang telah terisi air menjadi salah satu objek yang berpotensi dikaji untuk pengembangan riset perikanan. Tim BRIN juga mengambil sampel tanah dari sejumlah titik untuk mengetahui karakteristik dan kandungannya sebagai dasar pengembangan riset selanjutnya.
Model yang dikembangkan BRIN menunjukkan pemulihan lahan bekas tambang dapat dilakukan tidak hanya melalui reklamasi, tetapi juga dengan mengembangkan pemanfaatan produktif berbasis riset dan inovasi.
Integrasi peternakan, perikanan, tanaman pangan, hortikultura, edukasi, dan agrowisata diharapkan dapat membentuk ekosistem ekonomi baru sekaligus tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan.










