TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Pengelola Perbatasan Republik Indonesia (BNPP RI) membahas penguatan ekonomi kawasan perbatasan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui forum Indonesia Border Partnership Coffee Morning di Kantor Sekretariat Tetap BNPP RI, Jakarta.
Forum bertema “Strengthening Cooperation in Managing Our Border to Foster Prosperity” tersebut menjadi wadah dialog mengenai pengelolaan perbatasan yang tidak hanya berkaitan dengan kedaulatan negara, tetapi juga aktivitas ekonomi, perdagangan lintas batas, dan kesejahteraan masyarakat.
Duta Besar Malaysia Dato' Muzaffar Shah Mustafa mengatakan, masyarakat di kawasan perbatasan memiliki keterkaitan erat dalam kehidupan sosial maupun ekonomi. Menurutnya, pengelolaan perbatasan perlu mempertimbangkan aktivitas masyarakat yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
“Hal ini sangat penting karena masyarakat di kedua sisi perbatasan memandang perbatasan bukan sekadar garis di peta. Perbatasan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari mereka, keluarga, mata pencaharian, kegiatan usaha, serta hubungan sosial dan budaya yang telah terjalin selama bertahun-tahun,”kata Muzaffar dalam keterangan tertulis, dikutip, Minggu, 20 September 2026.
Dalam bidang ekonomi, Muzaffar menyoroti berlakunya Border Crossing Agreement (BCA) sejak 17 Juli 2026 serta rencana pembukaan kembali perdagangan perbatasan antara Tebedu dan Entikong.
Menurut Muzaffar, kerja sama tersebut dapat mendukung mobilitas masyarakat secara tertib sekaligus membuka peluang peningkatan aktivitas ekonomi lintas batas.
“Hal ini merupakan langkah penting dalam memfasilitasi pergerakan masyarakat secara tertib, mendukung kegiatan ekonomi lintas batas, serta meningkatkan kesejahteraan sosial ekonomi masyarakat di kedua sisi perbatasan,”jelasnya.
Muzaffar juga menyampaikan perkembangan komunikasi antara Indonesia dan Malaysia terkait persoalan Pulau Sebatik. Ia mengatakan, penyelesaian persoalan perbatasan dapat memberikan kepastian bagi masyarakat yang tinggal dan menjalankan aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.
“Sebagaimana disampaikan Yang Mulia Menteri sebelumnya mengenai Sebatik, menurut saya telah terdapat perkembangan yang sangat positif. Kedua lembaga yang bertanggung jawab telah melakukan pertemuan dan secara aktif berkomunikasi untuk menyelesaikan berbagai persoalan tersebut. Dari informasi yang saya terima, kemajuan yang dicapai juga sangat positif,” tambahnya.

[Foto: BNPP RI]
Sementara itu, Menteri Dalam Negeri sekaligus Kepala BNPP RI Muhammad Tito Karnavian mengatakan kawasan perbatasan perlu dikembangkan sebagai bagian dari pertumbuhan ekonomi nasional.
Menurut Tito, pembangunan kawasan perbatasan harus memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat serta meningkatkan interaksi dengan negara-negara tetangga.
“Perbatasan bukan lagi sekadar ‘halaman belakang’ Indonesia. Kami ingin menciptakan perbatasan sebagai ‘halaman depan’ negara,”ungkap Tito.
Tito menambahkan, pengembangan kawasan perbatasan perlu mempertimbangkan berbagai aktivitas masyarakat, termasuk hubungan sosial, budaya, dan kegiatan ekonomi yang telah berlangsung lintas batas.
Karena itu, penguatan perdagangan dan konektivitas menjadi bagian penting dalam menciptakan kawasan perbatasan yang lebih produktif.
Terkait Pulau Sebatik, Tito mengatakan BNPP RI bersama kementerian dan lembaga terkait telah membentuk tim khusus untuk membahas persoalan tersebut bersama pemerintah Malaysia.
“Pembicaraan yang bersahabat dan diskusi [pihak Malaysia] yang sangat produktif telah dilakukan, dan kami telah menyelesaikan sejumlah area sengketa. Tetapi sekarang kami sejujurnya sedang fokus pada Pulau Sebatik,” tutur Tito.
Melalui forum Indonesia Border Partnership Coffee Morning, Indonesia dan Malaysia membahas pengelolaan perbatasan dengan pendekatan yang mencakup aspek kedaulatan sekaligus kesejahteraan masyarakat.
Penguatan perdagangan lintas batas, kemudahan mobilitas masyarakat, konektivitas, serta penyelesaian persoalan perbatasan menjadi bagian dari pembahasan untuk mendorong kawasan perbatasan menjadi lebih produktif dan berdaya saing.










