TVRINews, Jakarta
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) terus mendorong perguruan tinggi memperkuat riset dan inovasi untuk mendukung pengembangan industri kendaraan listrik nasional. Hal ini, diungkapkan oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie.
Lebih lanjut, ia menuturkan jika fokus riset ini diarahkan pada pengembangan teknologi yang efisien, terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan industri serta masyarakat.
Stella mengatakan, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem kendaraan listrik, baik melalui penelitian untuk menjawab kebutuhan pasar maupun inovasi yang mampu menciptakan peluang baru.
“Ada dua peran inti universitas. Yang pertama adalah merespons kepada pasar, respond to the market. Dan peran kedua adalah lead the market. Kenapa kita harus memimpin pasar? Karena kalau kita hanya merespons kepada pasar, kita tidak bisa mengantisipasi apa yang dibutuhkan oleh pasar,” jelas Stella dalam keterangan tertulis yang diterima tvrinews.com pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurutnya, pengembangan kendaraan listrik membutuhkan teknologi yang tidak hanya memiliki kinerja baik, tetapi juga dapat diproduksi dengan biaya kompetitif. Dengan demikian, kendaraan listrik diharapkan semakin mudah diakses masyarakat sekaligus memperkuat daya saing produk dalam negeri.
Untuk mendukung pengembangan inovasi, Kemdiktisaintek mengarahkan pendanaan penelitian agar lebih berorientasi pada persoalan yang dihadapi industri. Stella menyebut lebih dari 50 persen dana riset yang dikelola kementerian dibuka untuk mendukung pendekatan tersebut.
“Jadi, sekarang kita berorientasi pada permasalahan di industri. Hampir lebih dari 50% dana riset kami dibuka. Salah satu hasilnya adalah Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di 2025. Itu pertama kalinya Bapak Presiden mengumpulkan seluruh ilmuwan-ilmuwan untuk menampilkan penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi mereka,” ungkap Stella.
Selain riset, pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi perhatian dalam membangun industri kendaraan listrik. Kemdiktisaintek mendorong penyelarasan pendidikan dengan kebutuhan dunia usaha, termasuk melalui kerja sama pendidikan vokasi antara Indonesia dan Tiongkok yang menghubungkan pembelajaran di perguruan tinggi dengan pengalaman belajar di luar negeri dan program magang industri.
Stella juga menekankan bahwa strategi pengembangan kendaraan listrik harus disesuaikan dengan kebutuhan dan potensi Indonesia. Menurutnya, pengalaman negara lain dapat menjadi referensi, tetapi Indonesia perlu membangun strategi yang menghubungkan riset, pengembangan industri, dan kebijakan ekonomi yang berdampak langsung kepada masyarakat.
“Jadi, kita tidak harus menjiplak seperti itu, tetapi kita harus memiliki strategi yang sama di dalam riset, industri, dan juga di dalam perekonomiannya yang langsung kepada masyarakat,” tegas Stella.
Sementara itu, Ketua Umum Periklindo Moeldoko menilai perkembangan kendaraan listrik menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat industri otomotif nasional. Ia mengingatkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar bagi produk kendaraan listrik dari luar negeri.
“EV adalah momentum lompatan industri kendaraan di Indonesia. Jangan dibiarkan, nanti kita menjadi penonton pembangunan. Kita sambut dan seksama sehingga kita terlibat di dalamnya, khususnya anak-anak muda, SDM-nya harus di-develop sehingga nanti bisa bagaimana membangun bersama-sama,” ujar Moeldoko.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza turut memaparkan perkembangan pasar kendaraan listrik di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah kendaraan di Indonesia mencapai 172,94 juta unit hingga akhir 2025. Sementara itu, pangsa pasar mobil listrik berbasis baterai meningkat dari 0,99 persen pada 2022 menjadi 16,88 persen pada periode Januari–Agustus 2026.
Faisol menilai pertumbuhan tersebut perlu diimbangi dengan penguatan kapasitas industri dalam negeri. Upaya tersebut mencakup pengembangan ekosistem baterai, peningkatan penguasaan teknologi, serta penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN).
Melalui keterlibatan perguruan tinggi, politeknik, peneliti, dan pelaku industri, Kemdiktisaintek berharap riset kendaraan listrik dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif dan menjawab kebutuhan pasar. Kolaborasi tersebut juga diharapkan memperkuat kapasitas SDM, meningkatkan daya saing industri nasional, dan mendorong kemandirian teknologi Indonesia menuju Indonesia Emas 2045.










