TVRINews, Tangerang
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Tangerang berhasil mengembangkan program hilirisasi industri berbasis pemanfaatan limbah pembakaran batu bara atau Fly Ash and Bottom Ash (FABA) menjadi material konstruksi bernilai ekonomi.
Program ini berawal dari inisiasi kerja sama antara Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto dengan PT PLN (Persero), yang mendorong pemanfaatan limbah industri menjadi produk konstruksi ramah lingkungan dan bernilai jual.
Kepala Lapas Kelas I Tangerang, Beni Hidayat, mengatakan produk berbasis FABA yang diberi nama “Jawara Beton” memiliki keunggulan pada efisiensi biaya dan waktu pengerjaan.
“Keunggulan utama dari produk ini terletak pada efisiensi biaya dan waktu konstruksi. Karena memanfaatkan limbah, harga jual produk Jawara Beton mampu ditekan hingga 10% lebih rendah dibanding harga konvensional di pasaran,”ujar Beni dalam keterangan tertulis, Rabu, 27 Mei 2026.
Ia menjelaskan, penggunaan material tersebut juga berdampak pada percepatan pembangunan fisik. Jika pembangunan rumah dengan material konvensional membutuhkan waktu 15 hingga 20 hari, maka penggunaan produk berbasis FABA dapat memangkas waktu pengerjaan secara signifikan.
Untuk menjaga kualitas, Lapas Tangerang secara rutin melakukan uji kekuatan material setiap bulan di Laboratorium PT Wijaya Karya (WIKA). Hasil pengujian menunjukkan produk tersebut telah memenuhi standar mutu beton K300 yang dinilai kuat dan layak digunakan untuk konstruksi.
Produk “Jawara Beton” juga telah menembus pasar nasional dan digunakan oleh sejumlah pengembang, termasuk PT Summarecon Agung Tbk, serta dimanfaatkan dalam pembangunan perumahan Aparatur Sipil Negara (ASN) di Cikarang Barat dan Cikarang Pusat.
Program ini turut melibatkan 72 warga binaan yang telah melalui proses asesmen dan pelatihan vokasional bersama instruktur dari PLTU, WIKA, dan HSP Akademi. Pembinaan tersebut menjadi bagian dari upaya peningkatan keterampilan agar warga binaan memiliki bekal ekonomi setelah bebas.
“Edukasi ini diharapkan menjadi pemantik agar mereka dapat memanfaatkan peluang ekonomi di lingkungan sekitar setelah kembali ke masyarakat,”tuturnya.
Sebagai bentuk apresiasi, Lapas Tangerang juga menerapkan sistem insentif bagi warga binaan. Setiap produksi paving block dihargai sekitar Rp2.000 per baki, dengan skema pembagian 50 persen untuk kebutuhan harian di dalam lapas dan 50 persen lainnya disimpan sebagai tabungan di Bank BRI sebagai modal setelah bebas.










