TVRINews – Jakarta
Sebanyak 10.539 mahasiswa dari 10 universitas top mendaftar program Tim Ekspedisi Patriot 2026 untuk membangun kawasan transmigrasi.
Kementerian Transmigrasi mencatat lonjakan minat yang signifikan dari generasi muda untuk terlibat dalam pembangunan daerah.
Sebanyak 10.539 mahasiswa dari 10 perguruan tinggi terkemuka di Indonesia resmi mendaftarkan diri dalam seleksi program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026.
Langkah strategis ini diambil pemerintah guna mencetak sumber daya manusia (SDM) berkualitas di wilayah transmigrasi.
Program ini juga diproyeksikan menjadi katalisator bagi lahirnya pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah, sejalan dengan arah kebijakan pembangunan yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara, menegaskan bahwa pemerintah menerapkan standar seleksi yang ketat untuk memastikan orisinalitas dan kualitas para delegasi yang akan dikirimkan ke lapangan.
"Kami ingin the best of the best. Kami ingin yang terbaik dari yang terbaik, sehingga yang datang ke kawasan transmigrasi itu betul-betul adalah SDM unggul yang terseleksi oleh universitas terbaik," ujar Iftitah usai memimpin Rapat Pleno Hasil Penilaian dan Usulan Tim Ekspedisi Patriot 2026 di Jakarta, dikutip rabu 27 Mei 2026.
Peta Sebaran Pendaftar
Animo terbesar dalam perekrutan ini tercatat mengalir dari beberapa universitas papan atas. Universitas Indonesia (UI) memimpin dengan 1.249 pelamar, disusul oleh Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan 1.187 pendaftar, dan Universitas Hasanuddin (Unhas) sebanyak 1.181 orang.
Selain ketiga institusi tersebut, ribuan pendaftar lainnya berasal dari tujuh perguruan tinggi mitra, yakni Universitas Airlangga (Unair), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Diponegoro (Undip), Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Menurut Iftitah, partisipasi yang masif ini merefleksikan tumbuhnya kesadaran kolektif di kalangan akademisi muda untuk berkontribusi nyata dalam modernisasi wilayah transmigrasi berbasis sains dan teknologi.
"Indonesia tidak kekurangan potensi, Indonesia kaya. Yang dibutuhkan adalah sumber daya manusia unggul yang hadir di kawasan-kawasan transmigrasi," tambahnya.
Integrasi Disiplin Ilmu dan Ketahanan Lapangan
Guna memastikan pembangunan berjalan secara komprehensif, para pendaftar yang terjaring berasal dari latar belakang keilmuan yang variatif dan strategis. Komposisi ini mencakup sektor pertanian, kehutanan, tata ruang, teknik lingkungan, energi terbarukan, manajemen kebencanaan, hingga sosiologi dan pengembangan masyarakat.
Kementerian Transmigrasi menjadwalkan proses seleksi lanjutan pada awal Juni mendatang, yang kemudian akan diikuti oleh fase pembekalan intensif di masing-masing kampus mitra dengan fokus utama pada penguatan adaptasi lingkungan.
"Sehingga mereka bisa betul-betul memiliki satu survival mode menghadapi luar biasa kekayaan Indonesia ini beserta dengan tantangannya, bencana, kemudian laut, kemudian juga tantangan-tantangan lainnya," urai Iftitah.
Ia juga menambahkan bahwa berdasarkan evaluasi program tahun lalu, aspek kesehatan fisik dan mental para peserta akan menjadi prioritas utama sebelum pelepasan resmi dilakukan. Seluruh peserta yang lolos tahapan seleksi dan pelatihan ini dijadwalkan bertolak menuju 53 titik kawasan transmigrasi pada akhir Juli mendatang.










