TVRINews, Jakarta
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengoptimalkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Penanganan dilakukan melalui operasi darat dan udara. Di darat, petugas melakukan deteksi untuk menemukan titik api sedini mungkin.
Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan api yang masih kecil segera dipadamkan. Jika api membesar, pengerahan personel dilakukan. Setelah api padam, proses pendinginan tetap dilakukan melalui pembasahan atau mopping up. Penanganan tersebut dilakukan di setiap lokasi karhutla di enam provinsi prioritas.
“Kami tetap menyampaikan bahwa armada saat ini dalam kondisi siaga atau standby. Di lapangan terdapat 52 armada udara,” kata Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers secara daring, Jumat, 28 Agustus 2026.
Dari 52 armada tersebut, sebanyak 14 armada digunakan untuk patroli guna memantau kondisi lapangan dan mendeteksi titik panas maupun titik api. Armada juga digunakan untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC).
Sementara itu, 38 armada lainnya digunakan untuk water bombing atau pemadaman melalui penyebaran air dari udara.
Sebagian armada dari total 52 unit tersebut juga dikirim ke Lampung dan Jawa Timur, masing-masing satu armada.
“Data kami hari ini menunjukkan jumlah air yang disebarkan melalui udara atau dengan water bombing sebesar 3.600.000 liter, atau 3,6 juta liter air, yang disebarkan di seluruh provinsi prioritas,” terangnya.
Jumlah air yang disebarkan tersebut menurun dibandingkan sehari sebelumnya. Kondisi jarak pandang pilot menjadi salah satu kendala dalam operasi water bombing. Selain itu, beberapa armada sedang menjalani pemeliharaan atau maintenance.
BNPB saat ini melakukan operasi modifikasi cuaca di tiga provinsi, yakni Riau, Kalimantan Barat, dan Lampung.
“Untuk Lampung, operasi modifikasi cuaca dilakukan sesuai dengan arahan Bapak Presiden. Hal ini karena di sekitar Taman Nasional Way Kambas terjadi kebakaran. Operasi tersebut sudah dilaksanakan dan api sudah padam,” lanjut Berton.
Meski api di sekitar Taman Nasional Way Kambas sudah padam, personel tetap disiagakan untuk mengantisipasi kemungkinan kebakaran lanjutan. Di Riau, OMC pada 27 Agustus 2026 menunjukkan hasil positif. Pertumbuhan awan hujan terjadi di sekitar Pekanbaru pada pukul 20.30 WIB.
OMC juga dilakukan di Kalimantan Barat selama 4 jam 40 menit dengan menyemai 2.000 kilogram garam. Hasilnya, pertumbuhan awan hujan terpantau di sekitar Bengkayang dan Sambas, Kalimantan Barat.
Sementara di Lampung, OMC berlangsung selama 1 jam 11 menit dengan menyebarkan 800 kilogram garam. Pertumbuhan awan hujan terjadi di bagian barat Provinsi Lampung dan Bengkulu, serta beberapa titik di sepanjang jalur OMC tersebut.










