TVRINews – Jakarta
Koridor Utara Jawa hingga KEK Jadi Tulang Punggung Pertumbuhan Ekonomi Nasional di Tengah Dinamika Global
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mengoptimalkan peran kawasan industri sebagai katalis utama dalam mendongkrak perekonomian nasional. Di tengah ketidakpastian global dan pergeseran lanskap investasi dunia, keberadaan sentra manufaktur yang terintegrasi dinilai memegang kunci penting dalam mewujudkan target pertumbuhan ekonomi yang ambisius.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa peta industri nusantara telah mengalami evolusi signifikan sejak akhir dasawarsa delapan puluhan.
Pembangunan infrastruktur berskala besar, termasuk jalur logistik strategis di sepanjang Koridor Utara Jawa, telah berhasil mentransformasi kawasan-kawasan tersebut menjadi pusat aktivitas manufaktur yang masif.

(Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto (Foto: @PerekonomianRI))
"Sentra manufaktur sejak tahun 1988 telah berkembang sebagai pilar kolaborasi vital bagi pembangunan negara," ujar Airlangga dalam perhelatan hari jadi Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) ke-38 di ibu kota Yang dikutip Sabtu 1 Agustus 2026.
Berdasarkan data resmi, lanskap industri tanah air saat ini mencakup 129 kawasan yang tersebar di 24 provinsi, membentang di atas lahan seluas kurang lebih 170 ribu hektare. Ekosistem tersebut kini menaungi sekitar 10.400 badan usaha manufaktur serta menyerap tenaga kerja hingga 4,5 juta orang.
Guna memperluas episentrum kemajuan ekonomi ke berbagai penjuru daerah, ekosistem ini turut disokong oleh kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK).
Peluang Indonesia dalam menarik modal asing kian terbuka lebar seiring dengan tantangan struktural yang mulai dihadapi oleh negara-negara pesaing kawasan, seperti lonjakan biaya upah serta keterbatasan ruang dan energi.
Berdasarkan hasil kajian lembaga perdagangan luar negeri Jepang, JETRO, sekitar 70 persen korporasi yang menanamkan modalnya di Indonesia melaporkan perolehan laba yang positif, menempatkan posisi Indonesia di jajaran teratas kawasan.
Selain penguatan sektor konvensional, pemerintah juga mengarahkan perhatian pada adaptasi teknologi mutakhir, termasuk kecerdasan buatan dan kebutuhan infrastruktur pusat data.
Pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara, yang didorong melalui kerangka kerja sama regional ASEAN Digital Economy Framework Agreement, menuntut ketersediaan pasokan energi hijau dan konektivitas yang memadai.
"Lonjakan permintaan terhadap fasilitas penyimpanan data global memberikan momentum baru bagi ekspansi investasi di tanah air, yang harus didukung oleh ketersediaan energi terbarukan dan infrastruktur air," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Umum HKI Akhmad Ma'ruf Maulana menyatakan bahwa para pelaku usaha tetap teguh dalam komitmen mereka untuk mendatangkan pembiayaan baru ke berbagai wilayah. Kendati demikian, sinergi yang erat dengan instansi pemerintah tetap krusial guna mengurai berbagai kendala birokrasi di tingkat operasional.
Menanggapi berbagai tantangan yang ada, Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto memastikan bahwa jajaran kabinet terus memantau situasi secara seksama dan berkomitmen melakukan penyederhanaan regulasi demi kepastian iklim usaha.
"Pemerintah meyakini bahwa setiap hambatan di lapangan dapat diatasi melalui koordinasi lintas sektor yang solid bersama para pemangku kepentingan," pungkas Haryo.









