TVRINews, Jakarta
Anggota Komisi IV DPR RI Rina Sa’adah menilai jatuhnya helikopter EC225LP Super Puma di Sungai Barito, Kalimantan Selatan, harus menjadi perhatian serius untuk memperkuat perlindungan seluruh petugas penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), baik awak udara, personel darat, maupun relawan.
“Mereka menjalankan tugas berisiko tinggi untuk melindungi masyarakat. Negara harus memastikan perlindungan itu hadir melalui armada yang laik, peralatan yang memadai, waktu istirahat yang cukup, layanan kesehatan, serta jaminan perlindungan kerja,” ujar Rina, Minggu, 8 November 2026.
Rina meminta evaluasi keselamatan dilakukan secara menyeluruh, mencakup perawatan armada, kesiapan awak, prosedur pengambilan air, kondisi cuaca, karakteristik lokasi, serta koordinasi operasi udara dan darat. Ia juga menekankan perlunya kewenangan yang jelas untuk menunda atau menghentikan operasi ketika kondisi tidak aman.
Kementerian Perhubungan telah menyatakan akan melakukan pengumpulan data dan pemeriksaan awal terkait aspek kelaikudaraan serta pengoperasian pesawat. Penyebab kecelakaan masih memerlukan pemeriksaan oleh pihak berwenang.
“Investigasi harus berjalan profesional dan hasilnya menjadi dasar perbaikan yang dapat dipantau. Kita tidak boleh mendahului kesimpulan penyebab kecelakaan, tetapi langkah pencegahan risiko harus segera dilakukan,” kata Rina.
Ia menambahkan, penguatan keselamatan petugas perlu berjalan bersama pembenahan pencegahan karhutla, pengawasan kawasan rawan, dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran.
“Penanganan karhutla harus melindungi dua pihak sekaligus: masyarakat yang terdampak dan petugas yang berjuang menyelamatkan mereka. Keselamatan keduanya harus menjadi ukuran utama keberhasilan operasi,” pungkasnya.










