TVRINews, Kuningan
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menekankan pentingnya inovasi dan keberanian seniman tradisi dalam menghadirkan ekspresi baru yang relevan
Melanjutkan rangkaian Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 yang dihelat di sepuluh daerah di Indonesia, Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Film, Musik, dan Seni bersama Pemerintah Kabupaten Kuningan serta komunitas seni lokal sukses menyelenggarakan FMTI Kuningan 2026 – Wantun Wirahma Siwindu di Lapangan Pandapa, Kabupaten Kuningan.
Kegiatan yang dibiayai melalui skema pemanfaatan dana abadi kebudayaan (Dana IndonesiaRaya 2026) ini dirancang sebagai ruang pertemuan lintas generasi bagi seniman, akademisi, komunitas, dan masyarakat umum untuk merawat serta memperkuat ekosistem musik tradisi.
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, dalam sambutan pengantarnya melalui tayangan video menekankan pentingnya keberanian bagi para pelaku seni tradisi untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan dinamika generasi muda.
“Tema ini mengingatkan kita bahwa musik tradisi harus terus hidup dan berkembang. Pelestarian tak berarti membatasi tradisi pada bentuk-bentuk yang telah ada, melainkan memberi ruang bagi para pelaku budaya untuk terus berkarya, berinovasi, dan menghadirkan ekspresi baru yang relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Menbud Fadli dalam keterangan tertulis, Minggu, 8 November 2026.
Ia menambahkan bahwa tajuk 'Wantun Wirahma Siwindu' mencerminkan sikap mental yang berani menghadapi tantangan zaman dengan tetap memegang kendali atas keharmonian, keindahan, dan akar nilai identitas budaya asli.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, memaparkan potensi besar industri musik domestik. Ia menyebut bahwa sekitar 80 persen lagu dalam daftar Top 50 Spotify Indonesia didominasi artis lokal dengan pertumbuhan royalti mencapai lebih dari 16 persen dibanding tahun 2024.

(Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra. [Foto: TVRINews/HO-Kemenbud])
“Artinya ada kesempatan bagi kita semua untuk terus berkarya melalui musik Indonesia, dan salah satunya adalah musik tradisi. Lokal itu harus diingat, tetapi juga dikembangkan dan dilestarikan. Kita harus tahu akarnya, tetapi tetap harus diinovasi sehingga bisa diterima,” ungkap Dirjen Mahendra.
Kolaborasi Pertunjukan Kreatif hingga Inovasi Angklung Robotik
Ketua Panitia Lokal FMTI Kuningan, Arif Pribawa Sakti, mengungkapkan bahwa sebanyak tujuh grup/sanggar musik tradisi terpilih melalui proses kurasi ketat dari 21 komunitas seni di Kabupaten Kuningan.
Para penampil yang memukau panggung FMTI Kuningan antara lain:
* Grup Lokal Terpilih: Mangun Langgeng, Putra Pusaka, Suara Lokananta, Pusaka Arya Komuning 3, Gung Gom and Friends, Merinding Disko, dan Wihendar Loka Musika.
* Bintang Tamu: Bungsu Bandung (Sumedang) serta kelompok seni Emudai (Papua Tengah) yang membawakan tari kreasi dan musik akustik bertema peminangan adat.

(Foto: TVRINews/HO-Kemenbud)
Selain pagelaran seni, festival ini diisi dengan workshop dan seminar berkapasitas 100 peserta yang menyasar para guru seni budaya SMP, SMA, dan SMK se-Kabupaten Kuningan. Seminar menghadirkan narasumber Yusuf Oblet, Mustika Iman Zakaria, serta Seniman Angin yang berkolaborasi dengan Aftech Bandung memperagakan inovasi angklung robotik.
Anugerah Apresiasi Tokoh Musik Tradisi Kuningan
Sebagai wujud pengakuan atas dedikasi dalam melestarikan seni pertunjukan di Tanah Pasundan, Kementerian Kebudayaan memberikan penganugerahan khusus kepada tiga sosok tokoh musik tradisi Kabupaten Kuningan:
1. Penjaga Musik Tradisi: Diberikan kepada Sadari.
2. Penggerak Tata Kelola Festival Musik Tradisi: Diberikan kepada Gugun Gumelar.
3. Penggerak Ekosistem Musik Tradisi: Diberikan kepada Wihendar.
Perhelatan FMTI Kuningan 2026 ini kian mempertegas peran strategis Kabupaten Kuningan dalam sejarah kebudayaan nasional, khususnya sebagai tempat kelahiran instrumen angklung diatonis yang kini terus bertransformasi mengarungi perkembangan zaman.










